Radikalisme dan gerakan massa nasionalis – strategi.id
Corong

Radikalisme dan gerakan massa nasionalis

Gerakan massa nasionalis

Strategi.id – Radikalisme dan gerakan massa nasionalis. sebuah kritik dan refleksi. Menjelang Pilpres 2019, persatuan dan kesatuan negara yang bersemboyan Bhinneka tunggal ika-tan hana dharma magwra, kembali di uji. Tidak jauh beda dengan masa lampau, ujian itu selalu mempersoalkan perbedaan SARA yang sejatinya merupakan kekayaan alam raya Indonesia.

Aksi teroris yang mengebom tempat ibadah dan menelan korban jiwa adalah peristiwa sosial-politik terhangat beberapa bulan ini. Berbagai kalangan bersuara mengecam, menuntut satu supremasi untuk dapat meredam dan mencegah aksi-aksi serupa. Tak ayal, seniman politik pun turut berkontribusi melalui berbagai konsolidasi. Bulat mufakat didapat, Radikalisme menjadi grand isu untuk mendesak pemerintah dan massa bergerak bersama mengatasinya.

Banyak dari aktivis 98 yang notabene adalah pelaku sejarah pergerakan massa progresif di Indonesia, menjadi punggawa terdepan dalam menggaungkan gerakan melawan radikalisme yang populer hari ini. Undangan berjejaring menembus sel-sel dan basis yang terjaga hingga saat ini untuk menyegerakan diadakannya rembuk nasional melawan radikalisme. Bukan ajang reuni dan beromantisme saja, ini adalah hajatan gerakan yang akan membentuk supremasi bagi siapapun kelak yang memimpin negara.

Adanya Tuntutan pembubaran PKS , menjadi topik panas yang dilambungkan ke udara. Hal ini menjadi pergeseran “sedikit” dari agenda yang para aktivis 98 dahulu gelorakan-membubarkan GOLKAR sebagai mesin rezim ORBA. Di titik ini gerakan massa progresif harus tetap pada prinsipnya. Mengenggam taktis tanpa melepas strategis.

Terkait radikalisme yang favorit diperbincangkan saat ini, Sarlito Wirawan pada 2012 menyampaikan bahwa pengertian radikal adalah afeksi atau perasaan yang positif terhadap segala sesuatu yang bersifat sampai ke akarnya. Sikap radikal akan mendorong prilaku individu untuk membela secara mati-matian mengenai kepercayaan, keyakinan atau ideologi yang dianutnya.

Memahami pendekatan oleh Sarlito Wirawan tersebut, adalah sejalan dengan KBBI yang mengartikan dari asal kata radix yang berarti akar. Yakni, segara sesuatu yang sifatnya mendasar sampai ke akar-akarnya atau sampai pada prinsipnya. Yang dapat juga diartikan sebagai sebagai sifat maju dalam hal pola pikir atau tindakan.

Dapat terlihat dari KBBI bahwa sejatinya, radikal merupakan istilah yang sangat positif dan menunjukkan bahwa sesuatu yang sifatnya berpegang teguh kepada prinsip. Namun, sebuah istilah yang netral dapat berubah konotasinya menjadi peyoratif dan negatif jika istilah tersebut selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif. Jujur saja, basis massa gerakan kita saat ini telah tercandu paradigma media popoluler bahwa saat mendengar-membaca radikal, hanya hal-hal negatif saja yang akan terlintas di dalam kepala, otomatis bahwa radikal adalah negatif-harus dilawan-dibinasakan.

Dalam bidang politik, radikal diartikan sebagai sikap yang sangat keras dalam menuntut perubahan. Seorang kawan yang akrab disapa EQ (ketua umum Badan Relawan Nusantara/founders Forkot 98) pernah berkisah, bahwa dulu dia bersama rekan sejawat pernah di cap radikal oleh rezim karena berjuang demi tumbangnya ORBA, menjatuhkan Soeharto dan reformasi adalah tahap awal perubahan kala itu. Kini 20 tahun Sudah reformasi berjalan, dia tetap berusaha meyelesaikan “pekerjaan” yang telah dimulainya.

*”Tidak ada perubahan sejati tanpa gerakan radikal. Tidak memahami prinsip perjuangannya hingga ke akar, bahwa neoliberalisme didalamnya juga memainkan terorisme. Tidak akan terjadi revolusi kemerdekaan Indonesia, bahkan Soeharto pun tak akan tumbang jika gerakan massa tidak radikal (dalam arti yang sejatinya),”* Edysa Girsang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top