Rahmat Effendi Ajak Anies Mampir ke TPST Bantar Gebang – strategi.id
Nusantara

Rahmat Effendi Ajak Anies Mampir ke TPST Bantar Gebang

strategi.id - bantar gebang ( foto : gambar.id / is)
strategi.id- Rahmat Effendi Ajak Anies Mampir ke TPST Bantar Gebang

Strategi.id – Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi (Pepen) mengaku kesal karena Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan tak pernah mengundangnya untuk bertemu. Bahkan surat-surat yang dikirimnya untuk mengadakan pertemuan juga tidak pernah direspon Anies Baswedan.

Petinggi Kota Bekasi yang akrab disapa Pepen itu menjelaskan bahwa sejak DKI Jakarta Dipimpin Anies Baswedan seakan tidak perhatian terhadap Kota Bekasi. Padahal, kata Rahmat,  DKI Jakarta memiliki beban besar terhadap Kota Bekasi terutama  Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

“Bantar Gebang ini menimbulkan dampak banyak baik lingkungan maupun lainnya. Padahal ada kerjasama, hak dan kewajiban harus saling menjalankan,” ucap Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, Jumat (19/10/18).

“Coba, Pak Anies saja belum pernah mampir ke TPST Bantar Gebang,” katanya.

Dia mengungkapkan, pada masa era Anies Baswedan, Pemkot Bekasi belum mendapat dana kemitraan, melainkan hanya kompensasi bau. “Kalau dana bau itu mah tidak perlu dibicarakan lagi. Itu mah wajib, ini kan kita bicara dana kemitraan buat kompensasi bentuk lain. Seperti infrastruktur yang itu juga balik lagi pemanfaatannya buat DKI juga,” ujarnya.

Untuk itu, kata Rahmat,  dirinya ingin  bertemu Anies untuk membicarakan kemitraan antara Kota Bekasi dan DKI Jakarta ini.

Seperti yang diketahui Jakarta merupakan megapolitan yang belum benar-benar bisa mengelola seluruh sampah warganya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan tahun lalu warga Jakarta menghasilkan 7.147 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, pemerintah DKI memindahkan 91 persen sampah–sekitar 6.500 ton–ke Bantargebang.

Warga DKI sendiri membuang hampir berbagai jenis limbah ke bak sampah. Sebanyak 54 persen sampah DKI termasuk kategori organik yang bisa membusuk. Sampah itu bercampur dengan limbah kertas sebanyak 15 persen dan limbah plastik sebanyak 14 persen. Warga pada umumnya belum memisahkan jenis sampah organik dan non-organik.

Menurut informasi yang di himpun sebanyak 2,5 persen sampah dibuang warga ke sejumlah kali yang membelah Jakarta. Sampah-sampah inilah yang kemudian menyangkut di pinggiran sungai atau di pintu air. Sebagian lainnya hanyut ke Teluk Jakarta.

BPS Jakarta mencatat Dinas Kebersihan Jakarta mengangkut 15,31 ton sampah dari pantai setiap harinya. Bantargebang adalah satu-satunya lokasi yang bisa menampung sampah warga Jakarta.

Hasil studi yang dilakukan Christopher A. Kennedy dari Departemen Teknik Sipil Universitas Toronto, Kanada, bersama puluhan peneliti dari berbagai negara pada 2015 mencatatkan Jakarta sebagai kota penghasil sampah terbesar ketujuh di dunia. Jakarta mengalahkan kota-kota megapolitan lainnya seperti Paris, London, Beijing dan Moskow.

Meski menjadi penghasil sampah dalam jumlah besar, Jakarta masih menggunakan sistem pengelolaan konvensional yaitu menimbun sampah atau sanitary landfill. Penimbunan sampah dilakukan dengan menyebar limbah padat ke sebidang lahan untuk dipadatkan.

Padatan sampah yang mencapai ketebalan tertentu kemudian ditimbun dengan tanah. Sampah baru akan ditumpuk di atas lapisan tanah tersebut. Penimbunan dilakukan berulang-ulang sampai lahan dianggap tidak sanggup lagi menampung sampah tambahan.

Mekanisme Pembuangan sampah ke Bantargebang dilakukan melalui jalur distribusi berantai yang melibatkan masyarakat. Warga bertanggung jawab membawa sampah dari rumah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Pengangkutan ini biasanya menggunakan gerobak sampah yang tersedia di masing-masing Rukun Tetangga atau Rukun Warga. Saat ini terdapat 200 TPS di seluruh Jakarta.

Sampah yang terkumpul di LPS kemudian menjadi tanggung jawab pemerintah DKI. Dinas Kebersihan Jakarta akan mengangkut sampah dari LPS ke 40 depo sampah. Dari depo, sampah diangkut menggunakan 800 truk ke Bantargebang.

Jalur distribusi sampah skala besar ini menyisakan permasalahan. Saat ini, Dinas Kebersihan Jakarta belum bisa memenuhi jumlah TPS dan depo sampah ideal. Dinas Kebersihan Jakarta sejak dua tahun lalu menyebut jumlah ideal TPS sebanyak 2.700 atau tiga belas kali lipat jumlah saat ini. Akibatnya, TPS mengalami overkapasitas. Dinas Kebersihan mengeluhkan sulitnya mendapatkan lahan untuk membangun TPS.

Alat pengangkutan sampah dari depo ke Bantargebang juga masih minim. Dari truk-truk  yang ada saat ini, hampir 40 persen di antaranya tidak layak pakai. Truk tersebut  tak layak pada akirnya  meninggalkan air lindi–cairan berbau berisi material pengurai sampah–sepanjang jalur pengangkutan ke Bantargebang.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top