Rakyat Tak Pernah Bersatu - strategi.id
Dialektika

Rakyat Tak Pernah Bersatu

Gambar: Ilustrasi

Rakyat memang tak pernah bersatu untuk urusan selera. Termasuk selera politik. Sebab selera politik tidaklah prinsip.

Bisa jadi mereka berbeda selera hanya karena gaya. Bisa juga karena kepentingan sesaat, skala prioritas, sudut pandang, dan sejenisnya yang di mata rakyat itu tidak prinsip. Karena tidak prinsip pula, rakyat tak pernah saling menghancurkan hanya karena selera.

Tak perlu diprovokasi. Rakyat pasti akan bersatu ketika menghadapi musuhnya. Mereka yang akan menghancurkan keselamatan hidup rakyat, menghina keyakinan dan harga diri rakyat. Itulah hal prinsip yang bisa membuat rakyat bersatu menghadapinya.

Lantas adakah hal prinsip yang bisa membuat rakyat gusar dalam Pilpres 2019 ini?

Islam dan Ijtima’ Ulama? Siapa yang mencoba menghancurkan Islam dari bumi Indonesia dengan pengikut terbesar di dunia? Mungkin tidak waras orang itu. Juga tak ada soal dengan Ijtima’ Ulama sebagai forum berkumpul sebagian ulama.

Lantas jika diharapkan memilih
pemimpin dari kalangan muslim? Tak usah diragukan, kedua Paslon Presiden dan Wakil Presiden semuanya muslim.

Partai Setan dan Partai Allah? Bualan apalagi ini? Tak jelas definisi dan ukurannya apalagi legitimasinya.

Curang? Sun Tzu mengatakan bahwa pertarungan politik adalah muslihat. Stonewall Jackson mengatakan sebagai sesuatu yang membingungkan, menyesatkan, dan mengejutkan.
Manakah di antara itu yang dikategorikan sebagai curang?

Jika itu semua dianggap sebagai kecurangan, maka kedua pihak sangat mungkin melakukan hal yang sama. Jika salah satu menganggap dirinya bersih dari kecurangan, itu bukan berarti mereka tidak curang. Mereka bahkan tidak jujur.

Rasanya memang tak ada hal prinsip yang merisaukan rakyat. Tebar pesona sudah dilakukan. Janji politik juga sudah dihembuskan. Pencoblosan sudah dilaksanakan.

KPU sebagai pelaksana Pemilu juga ditentukan bersama oleh para elite politik dan partai di DPR-RI. Jadi kita tinggal tunggu saja hasilnya.

Rakyat sudah berpartisipasi dalam pesta demokrasi itu. Mereka tak akan terbelah
siapapun pemenangnya.

Jika hari ini kedua Paslon saling mengklaim dirinya sebagai pemenang Pemilu, mungkin itu ungkapan rasa optimisme. Jika hari ini mereka teriak curang, mungkin mereka ingin yang terbaik.

Tapi jika karena kedua hal itu mereka jadi tidak mengakui hasil Pemilu. Kemudian mereka juga tak mau menempuh jalur hukum untuk mencapai kepastian. Bahkan mungkin mereka akan mendelegitimasi KPU, Bawaslu, MK, netralitas TNI-Polri, juga pemerintahan baru hasil Pemilu.
Lalu mereka membentuk dikotomi kepemimpinan nasional dengan klaim people power hingga mengganggu jalannya program pembangunan pemerintahan. Di situlah mereka sudah menjelma menjadi faktor yang akan merusak keselamatan hidup rakyat.

Dan jika rakyat sudah terancam keselamatan hidupnya, kita akan tahu: Rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan!…

Sentot Soerjopranoto
Pendiri dan Ketua I Paraindra

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top