Refleksi dan Solusi Sektor Pendidikan 73 Tahun Indonesia Merdeka – strategi.id
Dialektika

Refleksi dan Solusi Sektor Pendidikan 73 Tahun Indonesia Merdeka

Strategi.id - Refleksi dan Solusi Sektor Pendidikan 73 Tahun Indonesia Merdeka

Strategi.id- Wajah sektor pendidikan di negeri kita di usia 73 Indonesia merdeka sungguh wajib memperoleh sorotan tajam seradikal-radikalnya. Mengingat “mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan salah satu tujuan nasional paling utama yang dipancang para bapak pendiri bangsa ketika mendirikan republik ini. Lewat upaya serius “mencerdaskan kehidupan bangsa” itu hendak menjadikan seluruh rakyat Indonesia sebagai SDM unggul, yang dapat diandalkan menghela bangsa ini menuju tahap kemajuan peradaban sejatinya sebagai bangsa yang gandrung pada kebenaran, kesejahteraan sosial dan kemakmuran sosial, kemajuan kebudayaan, persaudaraan dan solidaritas nasional dan internasional, serta yang tak kalah penting adalah gandeng pada antieksploitasi (antikolonialisme/imperislisme) dalam beragam bentuknya.

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang seperti itu diantaranya adalah melalui penyelenggaraan sistem pendidikan dan persekolahan yang dipandang mampu membentuk SDM-SDM unggul dengan karakter-karakter konkrit seperti itu. Namun hal itu jika diperhadap-hadapkan dengan proses dan output sistem pendidikan yang berlangsung saat ini, diantaranya dapat dilihat dari angka-angka literasi maupun survei-survei internasional dan nasional tentang kemampuan pelajar Indonesia di bidang sains, bahasa dan matematika yang ditunjukkan oleh PISA (program for Internasional Studinya Assesment) maupun INAP (Indonesia Nasional Assessment Program) yang masih amat rendah, serta jika dilihat dari kecenderungan buruk yang diperlihatkan peserta didik di era digital saat ini, maka sesungguhnya terdapat hal-hal mendasar yang harus dirombak dan diganjot untuk pembenahan mendasar sektor pendidikan. Juga terdapat beberapa hal pula yang harus didongkrak penerapannya.

Perombakan dan pendongkrakan itu berada di tataran kebijakan terkait falsafah pendidikan yang dijadikan acuan, metode pembelajaran yang diterapkan, serta segenap hal yang menjadi turunannya. Secara garis besar diantaranya adalah:

Pertama, sistem pendidikan kita harus kembali dipastikan konkret dan konsisten, bahwa di semua jenjang pendidikan dasar 12 tahun adalah hak setiap anak Indonesia yang akan dibentuk sebagai manusia pembelajar seumur hidup. Sehingga jika ditemui anak Indonesia usia jenjang pendidikan dasar yang tidak bersekolah maka itu menjadi aib nasional dan aib daerah dari pemangku kebijakan yang sedang menjabat sebagai tidak pantas jadi pemimpin publik.

Kedua, sistem pendidikan yang dijalankan adalah yang berbasis pada pendidikan yang memanusiakan manusia. Sehingga para peserta didik lewat seluruh materi pembelajaran yang ada direkatkan pada proses pemahaman yang utuh dan proses aktualisasi dalam memanusiakan manusia sehingga berujung menjadi karakter peserta didik. Serta proses pendidikan kita harus dijatuhi dari paparan konten dan praktik pendidikan yang mengeksploitasi kemanusiaan.

Ketiga, pendisainan dan pengoperasian sebuah “road map” pentahapan progresif pendidikan nasional ke arah pendidikan gratis dan sangat bermutu bagi seluruh anak Indonesia usia pendidikan dasar dari seluruh kelas sosial di wilayah Indonesia.

Keempat, dibangun dan dikembangkan penerapan pendidikan yang menyenangkan, sehingga sekolah, meminjam istilah Ki Hajar Dewantara, nyata-nyata menjadi “taman bunga” yang menyenangkan. Bukan malah menjadi “gudang gelap menjemukan”. Dan pendidikan yang menyenangkan itu hanya terlaksana lewat metode pembelajaran yang menggembirakan, yang mampu merangsang terbukanya sistem memori di otak anak ketika berada dalam proses pembelajaran. Sehingga materi-materi pembelajaran berkualitas bisa mengendap di dalam memori jangka panjang peserta didik secara permanen. Diantara yang bisa diterapkan adalah istirahat 15 menit pada setiap 1 jam pelajaran untuk membugarkan otak peserta didik, sebagaimana hal itupun diberlakukan pada pendidikan di Finlandia yang terkenal berkualitas itu.

Kelima, menerapkan paradigma dan pendekatan multiple intelligence (kecerdasan majemuk) dalam sistem pendidikan dasar kita, dan menanggalkan paradigma yang hanya berfokus pada IQ semata yang hanya akan melahirkan manusia-manusia “pintar keblinger” dan memuakkan di tengah sistem sosial-kemasyarakatan kita.

Keenam, mendorong, melatih, dan membiasakan para guru untuk membuat rencana pembelajaran (lesson plan) berkualitas. Sehingga setiap guru selain mendidik dengan metode yang tepat, juga ditunjang rencana pembelajaran yang mampu menambah bobot pencapaian tujuan pembelajaran para peserta didik.

Ketujuh, yang juga teramat penting adalah proses membangun sinergi konstruksi antara proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah oleh guru dengan proses pembelajaran yang berlangsung di keluarga oleh orangtua. Hal ini penting agar jangan sampai proses pendidikan yang berlangsung baik di sekolah ternyata “ditorpedo” oleh proses pendidikan yang buruk di dalam keluarga. Atau sebaliknya proses pendidikan yang baik di rumah ternyata diporakporandakan oleh proses pendidikan yang buruk di sekolah. Di sinilah peran penting Direktorat Pendidikan Keluarga Kemendikbud untuk lebih serius dan lebih hebat lagi kerja-kerja, kinerja, dan programnya dari yang sudah ada sekarang yang menurut saya masih belum menggigit dan membumi.

Demikian garis besar yang dapat saya sunbangsihkan dalam merefleksikan dan menyolusikan problem sektor pendidikan negeri kita yang belum juga beranjak dari kondisi yang jauh dari membanggakan!

Salam Anak Nusantara.

Penulis Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak,,.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top