Reformasi Setengah Hati – strategi.id
Dialektika

Reformasi Setengah Hati

Strategi.id - Reformasi Setengah Hati

Strategi.id – 22 tahun silam, tepatnya 1998 Pemuda dan Mahasiswa di Indonesia meletakkan pondasi sejarah untuk kedua kalinya setelah tahun 1966. Mereka dipimpin oleh Gerakan Mahasiswa 98 FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta), mengukir sejarah atas terbukanya pintu Reformasi setelah 32 tahun Indonesia berada dibawah hegemoni Mendiang Jendral Soeharto yang dikenal sebagai Pemimpin otoriter dan diktator. Orde Baru dibawah Kepemimpinan Soeharto meyakini bahwa hanya Demokrasi Pancasila terpimpin yang mampu menjaga Kesatuan dan Persatuan serta menjamin Kesejahteraan Rakyat Indonesia bisa diterapkan tanpa intervensi Asing dan Aseng.

Selama 32 tahun pula Soeharto sukses membuat Indonesia tanpa hoax, Indonesia tanpa fitnah, Indonesia tanpa gonjang ganjing seperti sekarang, karna Soeharto pula yang sukses membagun management konflik dengan rapi. Rakyat merasa Aman, Nyaman dengan kehidupan serba murah atas harga harga sembako yang mejadi kebutuhan hajat hidup seluruh Rakyat Indonesia kala itu. Disisi lain, selama Rezim Soeharto mencengkram, Rakyat Indonesia dibungkam, tidak dapat menyalurkan aspirasi, tidak boleh mengungkapkan suatu pendapat jika tak sejalan dengan Rezim otoritarianesme Soeharto ketika itu, karna Orde Baru meyakini Demokrasi hanyalah sistem yang Berjanji bukan Menjamin keberlangsungan kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Saya salah satu saksi sekaligus pelaku sejarah secara otodidag Gerakan Reformasi 98 bersama A Danar Priyantoro SE alias Antoni dan kawan kawan, menyaksikan langsung pertemuan 4 Tokoh Nasional bersama Mahasiswa dikediaman Alm Gus Dur Ciganjur Jakarta Selatan, bagaimana Gerakan Mahasiswa 98 FKSMJ yang dipimpin oleh Sarbini – Hotrun cs membawa segudang agenda Reformasi dengan menawarkan konsep Demokrasi edial bagi Bangsa Indonesia, namun dalam perjalanannya Mahasiswa dan Para Tokoh Bangsa ketika itu tidak dapat menemukan titik temu sejalan dan para elit Politik ketika itu memaksa digelarnya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden melalui Musyawarah Mufakat digedung DPR-MPR, dari Gedung DPR MPR lah Ibunda Reformasi melahirkan anak bernama Demokrasi “Cacat Mental” karna Reformasi dilakukan setengah hati yang pada akhirnya Reformasi Demokrasi dibajak oleh segelintir Pemilik Modal, sehingga bayi mungil Demokrasi itu berubah nama mejadi Oligarki. Selamat Ulang Tahun yang ke 22 tahun wahai ” Demokrasi Cacat Mental”. Semoga Bangsa ini tidak tambah terpuruk. Aamiin..

Penulis: M Husni Mubarok
(Ketua Umum Indonesia Sinergi. Penulis Buku).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top