Reformasi Yang Dibajak – strategi.id
Corong

Reformasi Yang Dibajak

Strategi.id - Reformasi Yang Dibajak

Strategi.id – Gerakan mahasiswa 98, sebagai sebuah spektrum pergerakan, tepat pertengahan 1997 , krisis moneter ( Krismon ) melanda Indonesia, nilai tukar Rupiah anjlok terhadap dollar Amerika, yang berfluktuasi diluar perkiraan, para begawan dan pakar ekonomi yang dimiliki Rezim Orde Baru waktu itu, ditengah kondisi Abnormal tersebut.

Tim ekonomi Soeharto justru bersikap anomali terhadap kondisi real pasar dengan menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak, anehnya Soeharto sebagai pengendali utama memberikan lelucon yang saya anggap sebagai kekonyolan Pemimpin dalam mengelola Negara, alih – alih di saat situasi rawan Pangan yang melanda negeri ini Soeharto memberikan lelucon kampanye makan tiwul, bayangkan Rakyat sebagai pengendali saham utama Negeri ini dipaksa menikmati krisis yang seharusnya menjadi kewajiban Negara terhadap Rajyat sesuai amanat konstitusi.

22 Tahun silam, tepatnya bulan may 98 menjadi tonggak sejarah perjalanan panjang & melelahkan bagi gerakan mahasiswa, bagaimana kita dihadapkan pada Kepemimpinan Otoriter dengan segala kekuatan yg dimiliki, derungan Panser, derap sepatu para serdadu bersenjata lengkap yg siap menembak siapapun yang dianggap melawan Pemerintah, 32 Tahun Soeharto berkuasa hanya menyisakan cerita pilu bagi Aktivis kala itu, penculikan, pembunuhan bahkan penghilangan paksa atas nama penegakan hukum dan keamanan Negara.

Tepat 21 May 1998 Soeharto harus menelan pil pahit dan kenyataan bahwa Kekuasaan tidak selamanya bertahan jika Rakyat menghendaki, Usai Reformasi & suksesi Kepemimpinan Nasional waktu itu, telah meninggalkan banyak sekali pekerjaan rumah tentang formula atau model kepemimpinan Pasca Soeharto lengser, lagi – lagi estapet kepemimpinan Nasional diambil oleh Orang – orang yang sama, orang yang menikmati jalanya kekuasaan Orde Baru.

Pada akhirnya saya berpikir bahwa Reformasi yg kita gulirkan hanya memberikan ruang dan memuluskan jalan para pembajak. untuk menguasai tahta yg pernah kita runtuhkan, model dan gaya mereka tak beda jauh dengan model Soeharto sewaktu berkuasa, harapan tinggal harapan. Impian tetap impian, pada akhirnya kita hanya menjadi Objek penderita sekaligus Pemain drama dimana sekenario dan alur ceritanya sudah disiapkan oleh orang – orang lama dengan kemasan baru.

Tak elok rasanya jika ada anggapan bahwa kita aktivis 98 sebagai generasi yang tidak diinginkan, mungkin bagi mereka yang sedari awal berjuang sebagai pemburu rente dan kue kekuasaan, merasa bahwa keberadaan kita, se’olah tak dianggap oleh elit politik disetiap kontestasi 5 tahunan, tapi biarlah itu berjalan, toh tujuan kita dan saya sebagai mantan ketua BEM memiliki perspektif berbeda, kita berangkat dari nilai – nilai keluhuran, ada panggilan jiwa, Tuhan menjadikan kita sebagai petarung, bukan pecundang yang hidupnya hanya memburu kekuasaan semata, nilai juang 98 mentorehkan tinta emas sepanjang sejarah gerakan mahasiswa, kita tidak sedang bernostalgia dimasa – masa ke emasan tahun 98.

Kondisi tersebut tidak akan bisa diulang secara ritme, namun roh keluhuran yang bisa kita bentuk dengan regenerasi berikutnya, kita banyak belajar dari senior kita Aktivis 66 dan seterusnya, mereka lahir dengan pola dan gerak berbeda, mereka hadir dengan setumpuk harapan berkuasa, sementara kita lahir dan hadir sebagai new generasi tanpa imbal hasil, kita bergerak mengikuti naluri Rakyat, kapanpun dimanapun selagi mereka terhimpit oleh kerasnya kekuasaan dan kebijakan yang tidak pro Rakyat.

Mahasiswa sebagai pewaris dan aset besar negara dimasa depan, peran mahasiswa sebagai Agent of Change dan social Control adalah perubahan menuju kearah yang lebih baik dan akan memberikan energi baru, manfaat serta menjadi pengontrol untuk dirinya sendiri, orang tua, teman – teman, orang – orang disekitarnya dan untuk Negara, tidak kemudian bersikap pragmatis, menggadaikan nilai – nilai luhur sebagai pejuang dengan hasil dan tujuan materi semata, mengorbankan kawan dan kelompok hanya untuk kepentingan pribadi.

Kita banyak belajar dari banyak tragedi 98, semanggi 1 dan II atau lainya, mereka meregang nyawa atas nama Rakyat dan Mahasiswa, sementara ada orang – orang yang bermain momentum dengan mengais kuasa dan kemewahan diatas penderitaan kawan seperjuanganya, miris rasanya, malu bercampur geli saat sebagian kawan diberi kesempatan Tuhan ikut mewarnai gerbong kekuasaan, namun tak berdaya oleh tirani senioritas, tirani pemodal, tirani popularitas tapi tetap bisa tertawa diatas kawan sependeritaan yang berjuang diluaran sana akan beratnya beban hidup.

Saya termasuk orang yang tidak begitu tertarik mengorbankan kawan seperjuangan untuk memasuki gerbong kekuasaan dimana didalamnya banyak diisi oleh Orang – orang yang pada saat itu berhadapan dan menjadi musuh utama bagi pergerakan Mahasiswa dan Rajyat, saya bangga menjadi diri sendiri, bisa memberikan manfaat bagi semua orang dilingkup yang paling kecil yakni keluarga dan kawan dekat.

Mungkin akan berbeda cerita jika saat ini saya sebagai bagian dari kekuasaan sementara saya tidak bisa melakukan apapun termasuk mewujudkan agenda Reformasi yang dulu kita perjuangkan.
Ada kegundahan hati & kegeraman berpikir saat kekuasaan pasca Reformasi tidak lebih baik dari masa – masa Orde Baru berkuasa.

Kebebasan dikebiri, pengelolaan Negara serampangan, kebijakan dibuat hanya dinikmati segelintir orang, kontrol Negara semakin absolut, ruang – ruang berpikir dan kritis ditutup, rakyat dibuat berhadap – hadapan, Gap sikaya dan simiskin semakin lebar, pertumbuhan ekonomi stag dan semakin memperlebar jurang kemiskinan.

Reformasi lagi – lagi hanya dijadikan alat, Jargon pembenaran para pembajak untuk melanggengkan kekuasaan, termasuk sebagian aktivis pergerakan dulu. mereka berkolaborasi dengan irama sumbang atas nama kerakyatan dan tangis pilu gubuk reot dan wong Cilik.

Akhir tulisan ini saya tetap berpegang pada prinsip, norma dan nilai juang Mahasiswa sebagai Agen perubahan dimanapun, kapanpun tanpa imbal balik atau maksud memenuhi birahi berkuasa, kita wajib hadir ditengah derita Rakyat, biarlah seleksi alam & sejarah mencatatnya, saya ya saya, tidak mungkin dipaksa untuk menjadi dia, prinsip kita Cuma satu, yakni kita sebagai Casper, Casper bagi keluhuran dan kepedulian terhadap situasi abnormal. Yakni nilai – nilai Demokrasi yang kita impikan

Jakarta, 21 May 2020.

Penulis: Sopan (Mantan Aktivis FKSMJ 98).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top