Resesi Dunia dan Potensinya di Indonesia - strategi.id
Infrastruktur

Resesi Dunia dan Potensinya di Indonesia

Strategi.id- Indonesia resesi
Strategi.id- Resesi Dunia dan Potensinya di Indonesia

Strategi.id- Pertanyaan mengenai apakah ekonomi dunia akan terjerat ke dalam resesi semakin ramai diperbincangkan. Apa lagi saat perlambatan semakin nyata terlihat.

Perang Dagang AS-China

Pada akhir pekan lalu, kabar baik dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China cukup mampu menenangkan pasar. Setelah melakukan pembicaraan dagang di Washington, kedua ekonomi terbesar dunia itu menunjukkan tanda-tanda akan mencapai kesepakatan dagang.

Baca Juga : Strategi Singapura Hadapi Resesi Dunia

Presiden AS, Donald Trump, bersama Wakil Perdana Menteri China, Lie He, Jumat waktu Washington mengumumkan jika perundingan kedua negara memberikan hasil “kesepakatan fase satu yang sangat substansial”, sebagaimana dilansir CNBC International.

Trump menambahkan “fase dua akan dimulai segera” setelah fase pertama ditandatangani.

Porsi pertama dalam kesepakatan dagang kali ini akan dibuat dalam tiga pekan ke depan, termasuk di dalamnya properti intelektual, jasa keuangan, serta rencana pembelian produk pertanian AS oleh China senilai US$ 40 sampai US$ 50 miliar, kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Baca Juga : Narasi Menang,Curang dan Perang Versus Metode Ilmiah

Dengan deal kali ini, artinya bea masuk yang rencananya dikenakan ke China pada 15 Oktober nanti resmi ditunda, untuk sementara tidak ada lagi kenaikan bea importasi dari kedua negara.

Efek Brexit 31 Oktober 2019

Sedangkan kondisi lain dari Eropa, Inggris juga diperkirakan akan mencapai kesepakatan sebelum keluar dari Uni Eropa. Brexit sebelumnya dijadwalkan terjadi 31 Oktober ini.

Pada semester I-2019, utang pemerintah Inggris mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Hal tersebut menjadi peringatan atas rentannya kondisi keuangan di tengah realisasi wacana keluarnya Inggris dari Uni Eropa dengan tanpa persetujuan (no-deal Brexit).

Baca Juga : CPNS 2019 Buka Kembali Ini Link Website Pendaftarannya

Defisit anggaran Inggris sepanjang April dan Juli 2019 ini mencapai 16 miliar poundsterling (19,4 miliar dollar AS). Angka tersebut 60 persen lebih tinggi jika dibandingan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan bagi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang telah menjanjikan 20 miliar poundsterling pengurangan pajak serta meningkatkan anggaran untuk kepolisian, kesehatan dan pendidikan.

Defisit anggaran tersebut bisa bertambah hingga 30 miliar poundsterling jika Inggris memaksakan diri untuk keluar dari Uni Eropa tanpa ada kesepakatan pada 31 Oktober mendatang.

Baca Juga :Syarat Dan Link Pendaftaran Resmi CPNS 2019

Secara historis, Inggris telah berhasil menurunkan defisit anggarannya dari hampir 10 persen dari PDB di medio 2009 hingga 2010, ke level terendah selama 17 tahun menjadi hanya 1,1 persen pada tahun lalu.

Hongkong Resesi ?

Hong Kong tengah memasuki resesi. Sebagaimana ditulis Bloomberg, sejumlah data menunjukan bahwa di kuartal ketiga ini, negara itu terkonfirmasi mengalami resesi teknikal.

Bahkan media ini menulis Hong Kong tengah masuk ke resesi pertamanya setelah krisis keuangan. Kota ini pun disebut cuma memiliki prospek perbaikan yang sangat minim karena demonstrasi berkepanjangan yang terus terjadi.

Dari hotal mewah hingga pusat perbelanjaan besar sampai toko swalayan kecil dan restoran di pusat pariwisata global itu tutup. Bisnis di Central, Causeway Bay dan Tsim Sha Tsui ditinggalkan pelanggan.

Baca Juga : Jasa Marga Dapat Suntikan Dana Rp 23,3 Triliun Dari Perusahaan China

Pemandangan sepi juga terlihat di bandara Hong Kong yang biasa dipadati pendatang. Bahkan sarana transportasi kota juga tidak beroperasi semenjak tensi pengunjuk rasa yang kembali naik akibat diberlakukannya aturan darurat di Hong Kong.

Kontraksi ekonomi yang terjadi di kuartal kedua 2019 lalu, diperkirakan juga akan terjadi di kuartal ketiga ini. Sejumlah ekonom percaya, data-data yang ada masih menunjukan penurunan.

Sebelumnya, ekonomi Hong Kong diprediksi tumbuh 2-3% di 2019. Namun Agustus lalu, pertumbuhan dipangkas 0-1%.

Banyak ekonom juga memperkirakan pertumbuhan bisa saja di bawah 1%. Bahkan dalam riset JP Morgan Chase & Co pertumbuhan ekonomi wilayah ini hanya 0,3%.

Baca Juga : Sasaran-Sasaran Pembangunan Nasional Dirumuskan dalam GBHIP

Resesi Pertama Sejak 2009

Namun begitu, perdebatan tentang seberapa dekat dunia dengan resesi pertamanya sejak 2009 masih tetap ada.

Melemahnya ekonomi dunia juga diperkuat oleh hasil perhitungan Bloomberg Economics, yang menunjukkan ekonomi global telah melambat menjadi 2,2% pada kuartal ketiga, turun dari 4,7% pada awal 2018.

Lembaga moneter internasional yaitu IMF (International Monetary Fund) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di tahun ini jadi 3%, dari sebelumnya 3,2%.

Baca Juga : Zulkifli Membantah Pertemuannya Dengan Jokowi Membahas Koalisi Pemerintahan

Ini merupakan angka terendah sejak krisis keuangan global pada 2008 lalu. Pemangkasan proyeksi ini akibat perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Dilansir dari AFP, Selasa (15/10/19), perang dagang menurunkan kepercayaan para pebisnis serta membuat investasi dunia lesu. Pada 2020, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,5% menjadi 3,4%.

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia ?

Pemerintah kini sudah memasang lampu kuning terkait perlambatan ekonomi global yang terjadi di beberapa negara. Terlebih, kewaspadaan pemerintah kian tebal setelah ancaman resesi menghantui beberapa negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perlambatan ekonomi global tentu bisa menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hanya saja, ia tak bisa memprediksi besarnya dampak tersebut terdapat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga : Memaknai Pertemuan Jokowi Dengan SBY dan Prabowo

“Nanti kami lihat dari statistik, nanti lihat saja di Badan Pusat Statistik (pertumbuhan ekonomi) kuartal ketiga ini. Kami akan terus mewaspadai saja,” ungkap Sri Mulyani, Kamis (3/10/19).

Ia menyebut, belakangan ketidakpastian di dalam situasi ekonomi global kian kentara dibanding sebelumnya. Semuanya berhulu ke satu negara, yakni Amerika Serikat.

Ekonom Faisal Basri mengatakan resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi suatu wilayah mencatat angka negatif selama dua triwulan berturut-turut. Saat ini, beberapa negara dengan ekonomi skala besar memang tengah di ambang resesi Kamis, (3/10/19).

Ia mengutip The Washington Post yang mengatakan terdapat sembilan negara yang terancam resesi seperti Jerman, Inggris, Italia, Meksiko, Brasil, Argentina, Singapura, Korea Selatan, dan Rusia.

Ancaman resesi ini tentu akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi global yang terus melambat. Jika sudah begitu, maka perlambatan ekonomi juga tak bisa dihindari Indonesia.

Baca Juga : Strategi Marketing Dalam Perspektif Persaingan Bisnis Di Era Industri 4.0

Sebab, Produk Domestik Bruto (PDB) mengandung faktor eksternal, yakni ekspor netto. Jika kinerja ekspor tak mumpuni, hal itu tentu akan menahan pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi China tahun ini kemungkinan di angka 6 persen dari prediksi sebelumnya 6,2 persen. Belum lagi, ada sembilan negara terancam resesi. Jadi ketika negara lain lesu, Indonesia tidak bisa up sendiri,” jelas Faisal.

Meski begitu, pemerintah disebutnya tak perlu panik bahwa resesi akan mendekati Indonesia. Sebab, faktor eksternal bukanlah kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal II lalu, ekspor hanya berkontribusi sebesar 17,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, PDB Indonesia masih bertumpu pada konsumsi dan investasi dengan porsi masing-masing sebesar 55,79 persen dan 31,25 persen terhadap PDB.

Kondisi ini berbeda dengan Singapura yang kerap digadang-gadang mengalami resesi mengingat ukuran ekspor Singapura 270 persen terhadap PDB. Makanya, dampak perlambatan ekonomi global sangat berdampak parah terhadap negara singa tersebut.

Apakah Subsidi Perlu dikurangi ?

Sarbini ,S.sos , M.Si Pengamat Kebijakan Publik melihat pengurangan subsidi secara tak langsung dapat memberatkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut diprediksi memperlambat perekonomian di akhir tahun.

“Ketimpangan antara penduduk kaya dan miskin juga melebar” ujar Sarbini mantan aktivis 98 ini.

Baca Juga : FKSMJ 98 Minta Jajaran Jokowi Perbaiki Komunikasi Politik

Sedangkan Bank Dunia memproyeksikan, tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5%.

Angka tersebut jauh di bawah target yang ditetapkan pemerintah tahun ini sebesar 8%. Sedangkan tahun depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya tumbuh sebesar 5,1% ujar Sarbini.

Resesi yang mengancam Indonesia juga didukung melebarnya defisit transaksi berjalan di kuartal II tahun 2019. Defisit mencapai US$ 8,4 miliar. Sehingga rupiah rentan melemah jika terjadi aksi spekulasi.

Baca Juga: Aktivis ‘98 Meminta Maaf Kepada Bangsa Indonesia

Efek lain yang menggangu adalah persiapan pelantikan dan langkah apa yang akan dilakukan Jokowi sebagai Presiden terpilih 2019 untuk periode kedua ini yang sangat ditunggu tunggu oleh para Investor ujar Sarbini.

Sebab itu buat kondisi Indonesia sangat berbeda dengan negara lain seperti Singapura yang sangat mengandalkan perdangannya. Namun Sarbini juga menambahkan bahwa potensi resesi haruslah diwaspadai dan dicarikan solusinya buat negeri ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top