Rupiah Melemah Terhadap Dollar, Ini Dampaknya Untuk Indonesia – strategi.id
Nusantara

Rupiah Melemah Terhadap Dollar, Ini Dampaknya Untuk Indonesia

strategi.id – Nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS terus melemah. Bahkan, rupiah sempat melemah hingga menyentuh 15.029 pada selasa malam (4/9/2018) Ini merupakan posisi terendah rupiah terhadap Dollar sejak Juli 1998, setelah krisis keuangan melanda Asia.

Pelemahan nilai tukar ini dinilai tidak hanya beresiko kepada para pengusaha, melainkan juga bagi pemerintah, terutama dalam pembayaran utang jatuh tempo.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bima Yudhistira menilai pelemahan rupiah ini sudah diluar fundamentalnya.

“Jelas beresiko ke utang. Selisih kurs yang ditanggung pemerintah muncul saat pembayaran kewajiban jatuh tempo utang,” katanya, Sabtu (1/9/2018).

Dia memaparkan, berdasarkan data SULNI BI, kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo di 2018 mencapai USD 9,1 miliar yang terbagi menjadi USD 5,2 miliar pokok dan USD 3,8 miliar bunga.

Jika menggunakan kurs 13.400 sesuai APBN maka pemerintah wajib membayar Rp 121,9 triliun. Sementara dengan kurs sekarang di kisaran 14.700 beban pembayaran menjadi Rp 133,7 triliun.

“Jadi kalau tidak dikendalikan (rupiah) selisih pembengkakan akibat selisih kurs sebesar Rp 11,8 triliun. Uang Rp 11,8 triliun setara 20 persen dari alokasi dana desa. Seharusnya bisa dibuat belanja produktif tapi malah habis untk bayar selisih kurs. Itu kerugian bagi APBN,” tegas Bima.

Terkait utang pemerintah, Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati, mengatakan pelemahan rupiah bakal menambah beban pemerintah dalam membayar utang luar negeri.

Menurut dia, jika dalam asumsi makro APBN 2018 nilai tukar rupiah diasumsikan hanya 13.500 rupiah per dollar AS maka saat ini nilainya sudah meningkat tajam.

Otomatis pembayaran bunga dan cicilan utang dipastikan meningkat walaupun dalam nilai dollar yang sama. Meski begitu, tukas Enny, yang mengherankan pemerintah selalu mengklaim kondisinya sehat-sehat saja.

“Dan, ini hanya dibebankan ke instrumen Bank Indonesia. Bagaimana BI mau intervensi kalau cadangan devisa cuma 110 miliar dollar AS, dan itu berisiko,” tutur dia.

Hal yang sama juga diungkapkan Direktur Eksekutif Economic Action (ECONACT) Indonesia Ronny P Sasmita. Menurut Ronny, nilai tukar rupiah saat ini tidak lagi dipengaruhi murni faktor global, melainkan juga kombinasi dengan dalam nageri.

“Ini sudah perpaduan tekanan ekternal dan internal. Internalnya bisa dilihat dari neraca dagang, neraca pembayaran, dan transaksi berjalan minus,” tambahnya.

“Yang harus dilakukan pemerintah adalah fokus pada penguatan rupiah agar bertahan di harga fundamentalnya. Ya fundamentalnya di kisaran 14.500 per dolar AS menurut saya,” pungkas Ronny.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top