Saksi : CSR Sipoa Group Untungkan Masyarakat – strategi.id
Nusantara

Saksi : CSR Sipoa Group Untungkan Masyarakat

Strategi.id – Dua terdakwa kasus penipuan dan penggelapan uang milik pembeli apartemen, Budi Santoso dan Klemens Sukarno, sama sekali tidak memenuhi syarat adanya mens rea (niat jahat) dengan sengaja melakukan tindak penipuan dan penggelapan sebagaimana didakwakan Jaksa Penuntut umum (JPU).

Bahkan dua orang saksi yang pada persidangan kemarin dihadirkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya malah menegaskan bahwa kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang dipimpin kedua terdakwa menguntungkan masyarakat.

Musyafak Rauf, mantan Ketua DPRD Kota Surabaya yang juga Ketua Yayasan Unsuri saat bersaksi di hadapan majelis hakim mengatakan, niat jahat untuk menipu konsumen terkait pembangunan proyek apartemen Royal Alfatar World. Malah, CSR Sipoa Group telah membantu masyarakat.

Dia menerangkan, masyarakat sekitar proyek apartemen Alfatar World memperoleh hibah tanah seluas 4000 m2 untuk membuka akses jalan umum senilai Rp 25 miliar. “Selaku Ketua DPRD saya juga sudah meneliti semua perizinan yang dimiliki lengkap, berikut lahan yang disiapkan berstatus clean and clear,” ujar Musyafak.

Senada, Kepala Desa Tambak Oso Imam Sulbani sat bersaksi mengatakan, program CSR Sipoa Grup telah membangun jalan sepanjang 7 kilometer yang menghubungkan dari Pondok Chandra ke Tambak Oso, dilanjutkan ke Segoro Tambak. Pembangunan jalan ini adalah realisasi komitmen Sipoa Grup dalam forum Konsultasi Publik dan Sosialisasi Amdal yang diselenggarakan pada 12 Desember 2012.

Artinya, kata Imam, kedua terdakwa yang menjadi Direksi Sipoa Grup ini terbukti sangat menghormati komitmen. “Dari segi karakter yang saya kenal Budi Santoso dan Ir. Klemens Sukarno Candra tidak mempunyai potongan menjadi penipu,” imbuh Imam.

Kuasa hukum kedua terdakwa, Sabron Pasaribu, berdasarkan fakta persidangan, menilai kriminalisasi Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra yang diduga berlatar belakang “perampokan” asset perusahaan PT Bumi Samudra Jedine (Sipoa Group) senilai Rp 687,1 miliar oleh kelompok mafia Surabaya.

Menurut dia, modus operandi rencana perampasan aset dilakukan dengan cara mengintimidasi dan meneror secara psikologis terhadap Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra selama dalam tahanan, serta dipersulit bertemu dengan pengacaranya.

“Tujuannya agar Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra bersedia menjual asset tanah yang bernilai Rp 687,1 miliar tersebut kepada kelompok mafia Surabaya dengan harga ditekan hanya Rp 150 miliar,” kata Sabron sraya menambahkan, baru pada periode Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Luki Hermawan pengacara Sipoa Group diberi kemudahan untuk bertemu klien.

PT Bumi Samudra Jedine memiliki aset senilai Rp 687,1 miliar berupa sebidang tanah dengan status HGB No. 71/Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoardjo, Luas 59.924 m2 dan on hand.

Menurut Sabron, bukti-bukti yang yang dibawa ke pengadilan tidak memberikan gambaran adanya melawan hukum pidana yang didakwakan. Hubungan hukum yang terjadi antara PT Bumi Samudra Jedine dengan pihak-pihak pelapor adalah hubungan keperdataan, didasari dengan Surat Pesanan yang dilakukan dengan itikad baik, sebagai developer penyedia apartemen Royal Afatar Wolrd.

Dia membenarkan ada keterlambatan dalam penyerahan unit antara PT Bumi Samudra Jedine kepada pihak konsumen (pelapor), namun hal ini bukan merupakan tindak pidana, melainkan suatu tindakan wanpretasi sebagaimana diatur dalam Pasal 1234 KUHPerdata.

“Pembangunan apartemen mengalami kendala tak lazim. Menjelang aset Sipoa Group hendak dicaplok mafia, di internal PT Bumi Samudra Jedine juga ada pihak-pihak yang melakukan ajakan rush money, mengakibatkan terjadi krisis likuditas yang berdampak keterlambatan serah terima unit pada konsumen. Uang konsumen yang sedianya dibutuhkan untuk membangun secara bertahap tower dibawa keluar sebesar Rp 140 miliar oleh Teguh Kinarto dan kawan-kawan, dengan dalih menjual saham secara paksa” ujar Sabron.

Adanya peristiwa keterlambatan penyerahan unit, tidak berarti dua terdakwa berniat melakukan penipuan dan penggelapan, sebab PT Bumi Samudra Jedine selaku pengembang sudah memiliki Izin Lokasi berdasarkan Putusan Bupati Sidoardjo Nomor 188/2/404.1.3.2/2014, sebidang tanah dengan status HGB No. 71/Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoardjo, Luas 59.924 m2, yang di atasnya akan dibangun Apartemen Royal Afatar World , dan IMB No. 142 Tahun 2015/Kabupaten Sidoardjo lengkap untuk membangun dari pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ketentuan Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun. Apalagi sudah dilakukan pemasangan tiang pancang sebanyak 2500 buah.

“Namun meskipun direksinya tengah dipenjara, Sipoa Group berkomitmen untuk tetap memberikan refund kepada konsumen yang menginginkan, dengan memberikan jaminan aset yang dimiliki persero. Sampai saat ini sudah 25 orang konsumen yang telah menerima refund. Dan 200 konsumen dari Tim Baik-Baik (TB2) menerima jaminan pengembalian refund,” Sabron.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top