Saksi Sejarah: 27 Juli 1996 Bukan Sekadar Peristiwa Politik  – strategi.id
Nusantara

Saksi Sejarah: 27 Juli 1996 Bukan Sekadar Peristiwa Politik 

strategi.id 27juli 1996
Stratedi.id - Saksi Sejarah: 27 Juli 1996 Bukan Sekadar Peristiwa Politik ( Foto : Strategi.id )

Strategi.id – Sabtu, 27 Juli 1996 atau tepat 22 tahun lalu peristiwa sejarah di republik ini pecah. Kudatuli, akronim dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (ada yang menyebut Kudeta Dua Puluh Tujuh Juli) adalah peristiwa kerusuhan di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat.

Saat itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri diserbu massa pendukung Soerjadi, Ketua Umum PDI versi Kongres Medan. Tak hanya sipil, aparat bersenjata juga disebut ikut dalam penyerbuan tersebut.

Sontak, hal itu memancing kerusuhan di beberapa wilayah ibukota. Akibatnya, beberapa orang aktivis kemudian digelandang aparat dan dijebloskan ke bui.

Pro kontra peristiwa tersebut masih layak menjadi pembicaraan. Setidaknya, bagi generasi daring saat ini. Walaupun memang, memiliki beragam versi.

Informasi yang dirangkum redaksi dari berbagai sumber di antaranya penyelidikan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebutkan, lima orang meninggal dunia dalam peristiwa itu. 149 orang luka-luka serta 136 orang ditahan. Komnas HAM juga menyimpulkan telah terjadi sejumlah pelanggaran hak asasi manusia.

Pengadilan Koneksitas yang digelar pada era Presiden Megawati hanya mampu membuktikan seorang buruh bernama Jonathan Marpaung yang terbukti mengerahkan massa dan melempar batu ke Kantor PDI. Ia dihukum dua bulan sepuluh hari, sementara dua perwira militer yang diadili, Kol CZI Budi Purnama (mantan Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya) dan Letnan Satu (Inf) Suharto (mantan Komandan Kompi C Detasemen Intel Kodam Jaya) divonis bebas.

Firman Tendry Masengi, aktivis pemuda dan mahasiswa, salah seorang saksi sejarah yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut sedikit menceritakan bagaimana penyerbuan berlangsung.

“Sesaat setelah pecah kerusuhan di bawah rel KA di samping DPP PPP. Saudara Amsar A. Dulmanan memimpin kami berdoa, doa yang menguatkan perjuangan dan banyak di antara kami menangis mengaminkan doa itu,” kata Tendry, Jumat (27/7/2018).

Pasca penyerbuan, kata Tendry, massa rakyat kemudian memblokir daerah sekitar Cikini, Menteng, Gondangdia, Matraman dan Salemba.

“Bis terbakar di pertigaan Salemba, juga kantor Departemen Pertanian,” ujarnya.

Tak cukup sampai di situ, jelang tengah hari pasukan huru-hara mendesak massa rakyat dengan panser dan pasukan perang.

“Esoknya Jakarta lengang. Pengejaran terhadap aktivis dilakukan seantero negeri,” kisahnya.

Pasca itu, lanjut Tendry, banyak di antara aktivis yang memilih meninggalkan Jakarta untuk menyelamatkan diri.

“Demikian juga saya yang memang aktif berorasi menentang Pemerintahan Soeharto,” tutur Tendry.

Bagi Tendry yang juga mantan aktivis FKSMJ’98, “27 Juli 1996 bukan merupakan kerusuhan biasa”.

“27 Juli 1996 bagi saya bukan sekedar peristiwa politik tapi juga peristiwa hancurnya kebudayaan. 22 tahun lalu, mereka (aparat) juga pernah mengancam menghilangkan nyawa saya. Dan, Allah tetap memelihara saya hingga saat ini,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top