Sebuah Sinyal Menolak Nekolim (Utak-Atik Pasangan Capres-Cawapres) – strategi.id
Nusantara

Sebuah Sinyal Menolak Nekolim (Utak-Atik Pasangan Capres-Cawapres)

Strategi.id - Sebuah Sinyal Menolak Nekolim (Utak-Atik Pasangan Capres-Cawapres) Foto : istimewa
Strategi.id - Sebuah Sinyal Menolak Nekolim (Utak-Atik Pasangan Capres-Cawapres) Foto : istimewa

Strategi.id – Untuk sementara, usai sudah keriuhan komunikasi antar partai politik dan tokoh publik, seputar pencalonan capres dan cawapres dalam pilpres 2019 mendatang. Hilir mudik loby-loby dan negoisasi dikalangan elit, seketika berhenti sejenak dengan munculnya figur capres dan cawapres secara resmi, menandai babak awal yang sengit dari perebutan kursi orang nomor satu dan dua di negeri multi majemuk.

Proses tawar menawar kepentingan beberapa parpol dan sosok tertentu, ada yang menghasilkan “happy ending” dan ada juga yang “sad ending”. Bagaimana publik disuguhi tontonan eskalasi kompromi politik yang dibangun dengan sifat hikmad kenegarawanan ataupun dengan transaksional pragmatis bagai jual beli seonggok kardus bekas. Rakyat terus mengikuti dan mencermati tahap demi tahap manuver politisi itu dengan ragam asumsi, prediksi dan harap-harap optimis sekaligus skeptis.

Tentu saja, pemilu presiden yang digelar berbarengan dengan pemilu legislatif itu, akan menyajikan kontestasi politik yang akan menguras energi bangsa. Pesta demokrasi liberal yang mengangkangi roh Panca Sila namun konstitusional sekaligus mencekam. Selain kapital, hajatan kekuasan itu dibebani dengan ongkos sosial dan ongkos politik yang sangat mahal, dan berujung pada realitas menang kalah. Lebih banyak menonjolkan kecemasan periodik, hanya menampilkan dukung mendukung, pro dan kontra bahkan menimbulkan konflik yang rentan memicu disintegrasi sosial.

Bukan hanya memenuhi rasa penasaran dan keingintahuan publik, penetapan capres dan cawapres yang bakal menjadi kepemimipinan nasional. Akan menjadi kasat mata, kemana sebenarnya republik akan diarahkan, mendekati atau semakin menjauh dari cita-cita proklamasi kemerdekaan?. Ataukah perjalanan pemilu presiden hanya akan menebar erotisme kekuasaan, ambisi dan arogansi serta dendam politik semata?. Hanya dalam jiwa dan kesungguhan komitmen dapat ditemukan seorang pemimpin berkarakter, bukan pada tampilan atau sekedar kata-kata.

Jokowi dan Penatan Baru Indonesia

Belajar dari seorang Jokowi dalam satu periode kepemimpinannya di negara ini. Meski tidak mudah, terlihat jelas ketegasan menentukan sikap dan keberanian mengambil resiko. Sebagai seorang presiden RI, negara yang terbentuk dan terstruktur dari warisan kerusakan nilai dan kesalahan mengurus negara sebelumnya. Jokowi dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan atau tidak, kerjasama dalam berbagai kontak karya yang telah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya, dengan negara tertentu seperti Amerika, Inggris, Australia dll., yang berkekuatan hukum secara internasional.

Disamping itu Jokowi juga bisa mengambil kebijakan untuk membangun hubungan dan kemitraan baru yang lebih dalam, diluar negara yang sudah dominan dan hegemoni terhadap keberadaan Indonesia dalam pelbagai dimensi kehidupan bernegara. Jokowi memiliki keinginan kuat untuk melakukan perbaikan dan membangun kembali Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

Di dalam negeri Jokowi berusah menggali semua potensi yang ada, sementara terhadap dunia luar, Jokowi berupaya menangkap peluang dan menggalang kerja sama dengan negara lain yang dirasa lebih banyak memberi kemaslahatan tapi tetap menjaga kedaulatan negara serta menjaga kehormatan dan harga diri bangsa. Salah Satunya Tiongkok. Negara Asia yang telah menjadi kekuatan adidaya dan mendunia.

Jokowi sadar betul bahwa Indonesia diapit oleh kepentingan korporasi kapital dunia yang merepresentasikan kepentingan barat yang sudah lama menanamkan investasi dan aset -asetnya. Dalam hal itu, keterikatan terhadap hukum internasional tidak serta merta membuat Indonesia, bisa keluar dari perjanjian itu kemudian memiliki investasi itu dan mengambil aset-aset asing, sekalipun untuk kepentingan nasional.

Jika punya keberanian, jokowi akan dianggap tidak ramah pada kepentingan barat, tidak bersahabat pada mereka yang sesungguhnya wajah baru kolonialisme dan imperialisme. Ditambah lagi, jokowi dalam kepemimpinannya sering dironggrong oleh banyaknya elit yang telah lama menjadi sub koordinat dan komparador kepentingan asing utamanya korporatisme negara-negara barat.

Jokowi berada dalam pusaran pro dan kontra, terseret polemik baik dari reaksi internasional maupun gejolak dalam negeri sebagai imbasnya.

Kerja-kerja keras dan cerdas yang diimplementasikan dalam percepatan pembangunan negeri dengan prinsip pemerataan dan keadilan sosial, baik secara kualitas maupun kuantitas. Jokowi benar-benar ingin menghadirkan Panca Sila dan NKRI ke dalam kehidupan yang nyata, semangat persatuan dan kesatuan dan menghidupkan kembali nasionalime yang lama terkubur.

Konsep nawacita dan trisakti yang diusung pemerintahan Jokowi, seakan menegaskan kemajuan Indonesia adalah keharusan, “to be or not to be”, bagaimanapun resiko yang harus dihadapi.

Jelang pilpres 2019, Jokowi berpeluang dipercaya rakyat memimpin kembali Indonesia di periode keduanya. Sementara kontestan yang lain berorientasi merebut kekuasaan di dalam negeri, Jokowi cenderung menentang kekuasaan nekolim yang mendera cukup lama. Seperti memberi sinyal penolakan pada penjajahan dan penidasan gaya baru terhadap bangsanya.

Jokowi memulai langkah strategis di babak awal pilpres 2019. Melakukan transfmormasi nilai-nilai revolusioner pada potensi kekuatan sosial politik negara. Jokowi mulai menempatkan islam, salah satu kekuatan fundamen kebangsaan yang selama ini, hanya menjadi irisan-irisan dan komoditas politik praktis, marjinal dan terisolasi dari panggung kekuasaan politik formal negara.

Jokowi berkepentingan agar umat islam menjelma menjadi kekuatan yang berpotensi berperan lebih pro aktif, mumpuni dan signifikan mendorong kemajuan negara dan kemaslahatan umat. Pemilihan seorang RAIS AM NU, Prof. Dr. Kh. MA’RUF AMIN sebagai Cawapres pendampingnya, bisa dimaknai bukan hanya sekedar supporting sistem yang berorientasi menghimpun daya dukung politik umat islam semata dalam kontestasi pilpres 2019.

Lebih dari itu, Jokowi tersirat berupaya melakukan revitalisasi dan rekonstruksi peran umat islam dalam kancah pembangunan ekonomi politik nasional. Umat Islam yang mayoritas dan potensial, kesehariannya didorong tidak terus-menerus menjadi “captive market” pasar raya kapitalisme global. Menjadi korban dan bulan-bulanan perangai jahat kolonialisme dan imperialisme berwajah modernitas.

Meskipun sosok Cawapres Jokowi ini tidak akan bisa secara utuh mewakili umat islam di Indonesia, setidaknya Kyai Ma’ruf Amin adalah seorang muslim yang komplit, selain ulama intelektual yang sarat dan matang pengalaman dibirokrasi pemerintahan dan politik. Pemimpin Dewan Syuriah di tubuh NU itu, juga dikenal berkarakter santun, teduh dan menyejukan. Sebuah behavior politik yang relevan dan dibutuhkan di tengah realitas kenegaraan yang rentan dengan gonjang-ganjing dan rekayasa politik tingkat dunia.

Pada akhirnya semua berharap, duet kepemimpinan yang sederhana dan bersahaja ini, mampu membawa Indonesia pada kemuliaan dan derajat yang tinggi sebagai negara bangsa, bagi rakyatnya dan dalam pergaulan dunia internasional.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top