Sempat Depresiasi Rupiah Menguat Kembali Ke Rp.14.885 - strategi.id
Nusantara

Sempat Depresiasi Rupiah Menguat Kembali Ke Rp.14.885

strategi.id – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini sedikit keluar dari tekanan. Rupiah menguat tipis namun masih berada di level Rp14.800-an per USD.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) bergerak menguat di perdagangan Kamis (6/9/2018). Rupiah bahkan sudah tak lagi bertengger di level 14.900-an per USD.

Melansir Melansir Bloomberg Dollar Index, Senin (3/9/2018) pukul 09.22 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange menguat 8 poin atau 0,05% ke level Rp14.885 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.868 per USD-Rp14.885 per USD.

Untuk diketahui, Bank Indonesia terus melakukan intervensi pada pasar valuta asing (valas) dan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai upaya menekan pelemahan Rupiah. Dalam empat hari terakhir, Bank Sentral bahkan telah menggelontorkan Rp11,9 triliun di pasar SBN.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, BI melakukan pembelian SBN di pasar sekunder sejak Kamis, 30 Agustus 2018 telah dilakukan. Hal itu dilakukan dengan berkoordinasi pada Kementerian Keuangan.

“Hari Kamis kita beli Rp3 triliun, Jumat Rp4,1 triliun, Senin Rp3 triliun, dan kemarin (Selasa) Rp1,8 triliun,” ujar dia dalam rapat kerja dengan Komisi XI di DPR RI.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, meski ada penguatan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pemerintah tetap akan terus mewaspadai. Sebab, ketidak pastian gejolak perekonomian dunia masih akan terjadi.

“Ini sesuatu yang akan terus kita hadapi ketidak pastian ini tapi kita akan tetap menjaga,” kata Sri Mulyani saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCV) Senayan, Jakarta, Kamis 6 September 2018.

Sebelumnya, President ASEAN International Advocacy, Shanti Ramchand Shamdasani mengatakan, meski Rupiah sama-sama terdepresiasi, namun saat ini kondisi keuangan nasional masih bagus. Buktinya, perbankan di dalam negeri tidak terdampak pelemahan Rupiah seperti yang terjadi di 1998.

“Ini sama (terdepresiasi) tapi makna beda. 1998 dulu banking system-nya juga jatuh, banyak bank tutup, banyak yang merger dan lain-lain,” ujar dia di Jakarta, Kamis 6 September 2018.

Dia menuturkan, depresiasi rupiah yang terjadi saat ini disebabkan oleh dua hal, ketidaksiapan pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi digital. Kedua, perang dagang yang dipicu oleh kebijakan Amerika Serikat.

“Sekarang berbeda karena trigger-nya dua. Pertama banking system, mereka tidak antisipasi ekonomi digital sampai begitu berkembang. Lalu trade war di mana upaya mengkaji ulang perjanjian bilateral yang sedang dilakukan AS dan negara lain,” kata dia.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top