Seperti Harun Masiku, Panca Sila Menghilang - strategi.id
Corong

Seperti Harun Masiku, Panca Sila Menghilang

Strategi.id - Seperti Harun Masiku, Panca Sila Menghilang

Strategi.id – PDI Perjuangan sebagai partai ideologis, memiliki tantangan tersendiri terutama saat merayakan hari lahir Panca Sila 1 juni. Setidaknya ada 2 hal yang menjadi penting dan strategis yang harus dilakukan PDI Perjuangan, selain masalah korupsi bansos yang menyengsarakan wong cilik.

Pertama, menghadirkan dan menghidupkan Panca Sila. Kedua, menghadirkan Harun Masiku dalam keadaan hidup atau mati. Baik Harun Masiku maupun Panca Sila, keduanya memang sama-sama sudah menghilang dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain terkait masalah politik dan penegakan hukum. Keduanya juga berkorelasi terhadap masa depan demokrasi dan keberlangsungan NKRI yang berdaulat dan bermartabat. Namun sayangnya, keduanya hilang dan sangat sulit ditemukan.

Memiliki Kehilangan

Sebagai sebuah negara bangsa, Indonesia tak pernah jatuh dan hancur hanya karena kehilangan. Bahkan pada kehilangan segalanya. Tatkala terasa ada kehilangan yang panjang dan beruntun, tetap ada penemuan yang bisa diraih.
Seberapapun besarnya rasa kehilangan, seraya itu ada sesuatu yang bisa dimiliki.

Guratan sejarah kelahiran negeri, senantiasa menegaskan ada yang terlepas dan ada yang diambil. Seperti sebuah pertukaran, rahim republik melahirkan kemerdekaan dengan tumpah darah dan membunuh jiwa raga sendiri. Pemimpin-pemimpin menginginkan keberadaban, namun rakyat harus direlakan menjadi korban.

Entahlah, jika pada suatu saat nanti, …… kata-kata dan tindakan apa yang bisa dilakukan?. Jika yang hilang sesungguhnya itu adalah sebuah negeri yang kaya nan indah, Indonesia.

Berhenti Basa-Basi Panca Sila

Hari ini tanggal 1 Juni 2021, ditengah keramaian perayaan dan masih menyisakan beberapa tafsir penemuannya. Sementara langit kebangsaan mencurahkan kemuraman dan kegundahan. Panca Sila terus diperbincangkan seantero nusantara, namun segenap tanah air tak pernah menemui wujud dan merasakan maknanya. Hilang entah kemana, tak tahu rimbanya. Mungkin diculik, mungkin dibunuh atau mungkin juga sengaja ditiadakan. Seperti yang biasa terjadi pada manusia-manusia Indonesia, sepanjang negara ada. Ditengah damai ataupun konflik, saat ketenangan maupun dalam gejolak.

Bumi pertiwi memang penuh pengalaman kehilangan. Selain Panca Sila, dan NKRI yang juga kabur-kaburan keberadaannya. Hilang kedaulatan dan kesetaraannya, hilang persatuannya, hilang HAMnya, hilang konstitusinya, hilang demokrasinya dll. Kalaupun masih ada yang tersisa seperti hukum pastilah mahal harganya, tak terjangkau oleh jelata. Pun, keadilan hanya bisa direbut dengan ketidakadilan juga alias memerangi.

Semua kehilangan itu, telah ditukar dengan kepemilikan yang baru. Kebaruan pada kapitalistik dan sejumput pengikutnya yang setia. Modernitas, kemewahan, berbagai kemudahan dan kenikmatan dalam menjalani hidup. Semua kontra revolusi berbaju gengsi dan prestise keduniawian.

Uniknya, komunisme yang sempat berseteru, kini juga menjadi kawan, kongsi, dan loyalis penganut materi itu. Persada Indonesia telah menjadi wisata dan kawasan favorit globalisasi. Rakyat senang dan bergembira, relatif sedikit konflik dan tiada peperangan meski kehidupan terasa hampa dan semu. Sederhananya, Indonesia dikeroyok kapitalisme dan komunisme yang jadi musuh abadi dan bebuyutan Panca Sila. Sayangnya disaat sudah kepayahan dan babak belur, senjata canggih Panca Sila itu tak tahu disimpan dimana?. Raib. Tak bisa dipakai, tak ada perlawanan. Tinggal menunggu waktu, kalah KO!.

Kritis

Tidak ada alasan lain bagi keinginan mengadakan kembali atau menghidupkan Panca Sila selain merekonstruksi hubungan pemerintah dengan umat Islam terutama pada pemimpinnya dan para Ulama. Substansi Panca Sila merupakan esensi pemikiran moderat pemimpin-pemimpin Islam terutama para Ulama yang ikut mendirikan Indonesia. Kebesaran jiwa dari kekuatan umat Islam pada saat penyusunan dasar negara Indonesia itulah yang mendorong lahirnya Panca Sila sebagai konsensus nasional.

Kekuasaan, termasuk yang tak berdaya sekarang ini. Sejatinya, sedang menuju lompatan besar diantar gunung tinggi dan tebing yang curam. Sebuah lompatan yang beresiko membuatnya jatuh ke jurang yang dalam, setidaknya membuat cedera kalaupun bisa selamat. Kalaupun ada yang lebih baik dari itu, ya hanya sekedar melompat indah tapi penuh resiko. Lompatan sejauh galah. Tidak menuju pada sesuatu yang jauh menjangkau ke depan dan berkelanjutan. Tidak ada target besar. Ibaratnya, seperti lompatan kodok menangkap sekedar serangga kecil yang mengenyangkan sesaat. Setelah itu lapar musim panjang dan menderita sejadi-jadinya.

Kekuasan lemah itu, kini berangsur-angsur kehilangan sesuatu yang paling fundamental dan hakiki. Kehilangan kepercayaan rakyat. Pada momentum yang tepat, kekuasaan juga akan kehilangan mandat dari rakyat. Rezim Jokowi terlalu berjarak dengan pemimpin dan umat Islam yang walau belum terkonsolidasi, namun jelas menjadi kekuatan yang pasti bagi kebhinnekaan Indonesia. Mengabaikan bahkan meminggirkan Islam akan menjadi cacat sejarah dan cacat peradaban Indonesia. Malah, boleh jadi NKRI bisa bubar. Ini bukan soal keinginan mendirikan negara Islam, ini sosl akomodasi kepentingan umat Islam. Justru terkadang, narasi syariat Islam atau khilafah merupakan merupakan propaganda dan agitasi rezim kekuasaan dalam melemahkan umat Islam.

Sayangnya, pemerintahan Jokowi begitu antipati terhadap Islam. Rezim Jokowi menggunakan kekuatan umat Islam untuk kepentingan politiknya, sambil menghancurkan umat Islam dengan menggunakan kekuatan politiknya.

Kini, saat suasana negara euforia Panca Sila, Jokowi menyempurnakan kematian Panca Sila dalam sekaratnya. Rakyat bukan bukan hanya kehilangan nilai-nilai Panca Sila, bahkan semua identifikasi dan representasi itu ikut lenyap. Kehilangan Panca Sila, sejatinya juga kehilangan negara bangsa Indonesia.

Satu hal yang penting, namun sering dilupakan. Ketika menjadi konsensus nasional. Pancasila yang menjadi dasar negara dan falsafah bangsa, sejatinya sudah selesai dan paripurna sebagai kekuatan formal yang merekatkan kebhinnekaan dan kemajemukan Indonesia.

Menjadi urghens adalah saat merubah proses “to be” menjadi “to do”. Tidak menjadikan Panca Sila hanya sekedar simbol atau slogan semata. Lebih dari itu mampu melakukan proses pembudayaan Panca Sila sehingga mampu menjadi “habit and behavior” seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, perlu kearifan untuk memaknai dan mewujudkan Panca Sila yang lebih manusiawi dan universal. Hindari agregasi dan parsialisasi Panca Sila. Termasuk penggunaan narasi “Saya Panca Sila”, “Saya NKRI” dsb. Karena hal itu hanya akan membuat dikotomi dan diskriminasi sesama anak bangsa. Seakan Panca Sila dan NKRI hanya milik golongan dan kelompok tertentu.

Ayo Pak Presiden, wujudkan kepemimpinan Panca Sila. Berpancasila dengan jujur!

Penulis Oleh: Yusuf Blegur (Pekerja Sosial dan Pendiri Yayasan Human Luhur Berdikari).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top