Nusantara

Setelah Laba Jiwasraya Anjlok Sekarang Gagal Bayar Polis Rp 802 Milyar

Strategi.id- Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kiri) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri), Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution (tengah), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (ketiga kanan), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kedua kanan), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono (kanan) dan Gubernur Bali I Wayan Koster (kiri) foto bersama dengan sejumlah panelis saat pembukaan Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10). Forum IIF 2018 tersebut akan membahas paradigma baru dalam pembiayaan infrastruktur. ICom/AM IMF-WBG/ (foto : M Agung Rajasa/hp/2018/infopublik.id )
Strategi.id- Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kiri) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri), Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution (tengah), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (ketiga kanan), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kedua kanan), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono (kanan) dan Gubernur Bali I Wayan Koster (kiri) foto bersama dengan sejumlah panelis saat pembukaan Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10). Forum IIF 2018 tersebut akan membahas paradigma baru dalam pembiayaan infrastruktur. ICom/AM IMF-WBG/ (foto : M Agung Rajasa/hp/2018/infopublik.id )

Strategi.id- Manajemen PT Jiwasraya (Persero) buka-bukaan soal penundaan pembayaran polis jatuh tempo karena adanya tekanan likuiditas yang mendera asuransi jiwa plat merah ini.

Menurut Direktur Kepatuhan Jiwasraya Muhamad Zamkhani produk asuransi yang mengalami penundaan pembayaran polis jatuh tempo adalah saving plan. Ini produk asuransi berbalut investasi. Penundaan pembayaran tersebut terjadi sejak 1 Oktober 2018.

“Sebelumnya pembayarannya masih lancar. Tetapi sejak 1 Oktober 2018 banyak yang jatuh tempo dan harus ditunda pembayarannya. Total saving plan yang jatuh tempo dan tidak bisa dilunasi berjumlah Rp 802 miliar,” ujar Muhamad Zahkhani kepada rekan media, Kamis (11/10/18).
Penyebab penundaan pembayaran kewajiban polis yang jatuh tempo karena kondisi pasar modal yang bergejolak. Maklum, produk ini banyak menempatkan investasinya di pasar modal. Selain itu, produk ini juga ditempatkan pada properti yang tidak dapat dijual dalam waktu cepat.

Muhamad Zamkhani menambahkan manajemen sedang mengupayakan pendanaan untuk memenuhi kewajiban tersebut. Manajemen juga menawarkan perpanjangan waktu jatuh tempo (roll over) pada nasabah yang tersedia.

“Penundaan pembayaran polis jatuh tempo ini hanya pada produk yang dijual melalui perbankan (bancassurance) sementara yang dijual melalui agen masih bisa dipenuhi kewajibannya,” terang Muhamad Zamkhani.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengaku tengah melakukan audit investigasi terhadap kasus penundaan pembayaran klaim Jiwasraya. Audit investigasi dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Kami melakukan investigasi audit kepada Jiwasraya, terus terang saja. Kami bicara dengan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), dengan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) terkait investigasi. Investigasi audit kami harapkan selesai pekan depan,” ujarnya di Bali, Kamis (11/10).

Audit investigasi, lanjut Rini, dilakukan untuk melihat basis data nasabah perusahaan asuransi jiwa milik negara tersebut.

Kondisi keuangan

Melihat laporan keuangan tahun 2017, kondisi keuangan Jiwasraya memang kurang menggembirakan. Hal ini terlihat dari laba bersih perusahaan yang anjlok 98,46% menjadi Rp 328,43 miliar. Tahun sebelumnya Jiwasraya mencatatkan laba bersih Rp 2,14 triliun.

Penurunan kinerjanya Pendapatan usaha tak tumbuh maksimal sementara jumlah beban terus meningkat. Jumlah pendapatan naik 19,03% menjadi Rp 25,12 triliun dari Rp 21,1 triliun.

Kenaikan beban tersebut didominasi oleh beban klaim dan manfaat sebanyak Rp22,78 triliun, biaya akuisisi Rp980,90 miliar, beban pegawai Rp509,95 miliar, termasuk beban usaha lainnya Rp57,31 miliar.

Selain itu, utang perusahaan meningkat 34,23 persen, yakni dari Rp382,77 miliar menjadi Rp513,81 miliar. Utang perusahaan disumbang oleh utang klaim, utang reasuransi, utang pajak, dan utang lain.

Pada 2017, tingkat solvabilitas Jiwasraya sebesar 123,16%. Artinya Jiwasraya masih di atas ketentuan. Namun rasio solvabilitas pada 2017 turun dalam. Pasalnya, 2016 rasio solvabilitas Jiwasraya di kisaran 200,15%.

Berikan Komentar

Berikan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × two =

Atas