Seumapa, Tradisi Berbalas Pantun Khas Aceh – strategi.id
Budaya

Seumapa, Tradisi Berbalas Pantun Khas Aceh

Seumapa, Tradisi Berbalas Pantun Khas Aceh (Foto : deskgram)

Strategi.id – Mayoritas warga Serambi Mekah, Aceh tentu familiar dengan tradisi Seumapa. Seumapa merupakan salah satu seni tutur yang dimiliki oleh budaya Aceh dan Melayu. Seni tutur ini kerap ditampilkan dalam acara-acara formal di kalangan masyarakat Aceh. Tradisi Aceh ini biasa digunakan seperti acara lamaran, pernikahan maupun acara formal lainnya.

Seumapa, yang kurang lebih dapat diartikan sebagai sapa menyapa, merupakan salah satu jenis seni tutur yang dimiliki Aceh dan Melayu. Seni tutur ini biasa diisi dengan syair dan berbalas pantun yang dibungkus dengan jenaka.

Tradisi budaya Seumapa atau yang dikenal sebagai tradisi berbalas pantun ini semakin hari semakin berkurang dalam praktiknya oleh generasi muda Aceh. Medya Hus, salah seorang penyair senior asal Banda Aceh, mengatakan bahwa walaupun jumlah penyair di Aceh semakin hari semakin berkurang, tradisi menyenandungkan seumapa masih sering hadir di berbagai jenis acara, seperti misalnya perhelatan pernikahan, syukuran, khanduri laot, dan lain sebagainya.

Dalam acara-acara tersebut, para penyair Aceh ini biasanya membuka acara hajatan dengan aksi seni tutur berbalas pantun. Medya bersama kedua temannya Muhktasar dan Syeh Sofyan mengaku sering mendapatkan undangan dari pemda setempat yang biasanya tamunya terdiri atas pejabat dari pemerintah pusat maupun tamu kehormatan dari luar negeri.

Lebih lanjut menurut Medya, selain menyalurkan bakatnya Medya juga merasa bangga akan kemampuannya memamerkan kebudayaan khas Serambi Mekah tersebut ke berbagai kalangan. Hal tersebut juga merupakan salah satu cara untuk melestarikan warisan leluhur di bidang seni tambahnya lagi.

Medya mengaku syair-syair yang disenandungkannya diciptakan secara spontan. Ia mengungkapkan bahwa selama ini tidak pernah menulis syair Seumapa yang akan dilantunkannya. Medya dan kedua rekannya selalu mengucapkan barisan syair dan pantun tersebut secara spontan.

“Itu spontan. Kami hanya diberi materi dan konsep saja mengenai apa yang harus disampaikan. Lalu kami melihat keadaan sekitar dan langsung spontan mengucapkannya,” ujar Medya seperti dikutip dari CNNIndonesia.com beberapa waktu yang lalu.

Medya menjelaskan, selama ini para penyair Seumapa cenderung menyampaikan syairnya secara spontan daripada menuliskan syair tersebut terlebih dahulu karena ada kecenderungan kesulitan untuk menghafal syair tersebut. Karena spontanitas tersebut, Medya dan rekan – rekannya cenderung sulit untuk mengulang syair tersebut jika diminta mengulangnya.

Sehubungan dengan salah satu rekannya yang telah mendahului Medya dan rekan – rekan, mereka kini tengah berusaha untuk melakukan regenerasi agar kedepannya anak-anak muda di Aceh bisa meneruskan dan melestarikan tradisi Seumapa yang indah ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top