Sihir Materialisme Dalam Mitos dan Fantasi Kepahlawanan – strategi.id
Dialektika

Sihir Materialisme Dalam Mitos dan Fantasi Kepahlawanan

Strategi.id - Soekarno di saat Pidato ( Foto : is )
Strategi.id- Sihir Materialisme Dalam Mitos dan Fantasi Kepahlawanan

Strategi.id- Saat silam, ketika perjuangan pergerakan dan masa-masa revolusi fisik bergemuruh. Kesadaran untuk hidup tanpa kebodohan, keterbelakangan, dan kesengsaraan akibat penindasan.

Telah menjadi kekuatan yang melahirkan pemberontakan dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Setiap jiwa dan napas rakyat seolah dikreasikan dan didedikasikan untuk mewujudkan cita-cita Kemerdekaan.
Suasana saat itu, secara alamiah menumbuhkembangkan sikap patriotisme dan rela berkorban. Rakyat Indonesia berada dalam kegandrungan dan euforia anti penjajahan, meski harus ditebus dengan darah dan nyawa.
Sifat-sifat kepahlawanan menjadi konsumsi sehari-hari, menegakkan kebenaran dan keadilan menjadi sesuatu yang habit dan massal.

Baca Juga : 28 Oktober Kini, Sumpah Serapah Pemuda

Orang dewasa, pemuda-pelajar, perempuan bahkan anak-anak dari bebagai latar belakang suku, agama, dan golongan telah terpapar semangat jihad, terjangkit kemauan amar maruf nahi mungkar.

Bahu-membahu dan gotong royong telah menjadi etos kerja saban hari menghadapi suasana saat itu. Perbedan dan kemajemukan tidak menjadi masalah berarti apalagi menjadi hambatan.

Hanya demi harga diri, martabat dan keinginan hidup bersama tanpa penjajahan, makmur sentosa dalam persada Indonesia. Telah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Merdeka atau Mati!, gegap-gempita semboyannya menjadi tagline perjuangan yang melegenda. Begitulah Roh pergerakan pejuang tanah air walau dalam tirani imperialisme.

10 Nopember 1945 adalah suatu waktu, menjadi salah satu peristiwa dari rangkaian kejadian tak terhitung sebagai dampak kesadaran makna negara bangsa Indonesia yang rakyatnya anti nekolim.

Republik, meski seumur jagung, telah kenyang dan sarat didera gonjang ganjing politik dan konflik kebangsaan yang luar biasa. Perseteruan Pemikiran tokoh pendiri bangsa pada konsep bagaimana negara ini harus dibangun di awal kemerdekaan.

Ditambah lagi kemudian, munculnya pengaruh pergolakan politik aliran dan identitas , seolah bersinergi dengan berbagai agresi militer asing dan pembangkangan komparador nekolim dalam negeri. Semua campur baur menjadi satu dalam sejarah awal kemerdekaan Indonesia.

Namun, seiring waktu dan sejarah membuktikan. Dari janin dan proses kelahirannya yang berdarah-darah, telah menjadikan republik yang berkarakter. Negara Bangsa Indonesia adalah memang negara besar dan kuat bukan hanya pada aspek sdm, sda, maupun grografis dan geopolitis.

Tetapi lebih dari itu, pada keinginan dan cita-cita mewujudkannya, merangkai dan menyusun mozaik-mozaik dan entitas keIndonesiaannya. Serta yang paling substansi melahirkan Panca Sila bagi Indonesia sendiri dan bagi dunia.

Zaman Codot

Setelah 73 tahun berlalu dan utamanya melewati masa kepemimpinan Soekarno (baca: Orde Baru). Indonesia perlahan dan pasti berjalan mundur ke belakang. Alih-alih menyusuri jembatan emas kemerdekaan yang susah payah dibangun untuk mencapai masyarakat sejahtera.

Baca Juga : Aktivis 98′, Pilpres 2019, dan Oligarki Kekuasaan

Justru eksistensi negara telah melakukan penghianatan terhadap karya dan mimpi-mimpi besar para pendiri bangsa, menyelewengkan apa yang menjadi amanat penderitaan rakyat. Bangsa Indonesia menjadi semakin terjerembab dan terpuruk dalam kubangan modernitas.
Sebagai penopang utama modernitas, keberadaan material telah merasuki jiwa, pikiran
dan perilaku manusia yang hidup dalam kemanjaan fasilitas. Materialime telah mengambil tempat tersendiri dan menempati posisi teratas pada pandangan hidup kebanyakan orang.
Pada akhirnya, materialisme mulai menggeser peran kemanusiaan, agama dan Ketuhanan itu sendiri. Orang akan dianggap bodoh dan terbelakang jika tidak berorientasi pada materialis, setidaknya kuno dan ketinggalan zaman.

Tidak rasional dan keblinger dalam menghadapi tuntutan hidup. Seakan uang, harta dan materi lainnya telah menjadi Tuhan baru.

Perkembangan informasi dan teknologi yang begitu pesat, sedemikian besar membentuk pola hidup masyarakat yang terbuka, kompetitif dan sangat ekonomis.

Seiring kemudahan dan manfaat yang diambil oleh masyarakat milenial begitu disebut sebagian besar penikmatnya. Secara perlahan namun efektif, telah menggerus dan menghancurkan nilai-nilai, baik yang ada pada tradisi ataupun keyakinan-keyakinan teguh yang telah lama dianut.

Gaya hidup, trend dan orientasi telah menjadi representasi dari medornitas dan globalisasi dunia. Sedikit yang bisa bertahan dan menghindari derasnya gempuran dan pengaruh zaman now itu.

Di dunia maya, kebinatangan hadir mereduksi peran dan eksistensi manusia, meski hanya dalam istilah. Kampret (codot) dan Kecebong jadi pilihan kata dalam menu harian netizen.

Menggambarkan dikotomi dalam kemajemukan dan demokrasi. Kemudian lalu lintas dunia daring, kebebasan berpendapat dan menentukan sikap menjadi tak terhalangi dan sulit dikontrol.

Sebuah konsekuensi demokrasi yang lahir dari rahimnya kapitalisme. Seperti standar ganda, menyampaikan berita yang informatif sembari memberi kelonggaran agitasi-propaganda dan kebohongan serta ujaran kebencian.

Ujung-ujungnya bermuara pada tendensi kekuasaan politik dan ekonomi. Tak peduli seberapa besar dampak dan potensi perpecahan bangsa.

Dalam semangat nasionalisme dan patriotisme, generasi milineal telah kehilangan sejarah, sosok dan teladan kepahlawanan.

Anak-anak Muda dan generasi penerus dibawahnya dipaksa mencari figur pahlawan dan idola dalam mitos dan fantasi yang dibangun oleh materialisme.

Mereka menemukan pahlawannya di bioskop-bioskop, di panggung-panggung konser, dan beraneka pertunjukan kontestasi yang instan dan pragmatis.
Pahlawan mereka bermutasi menjadi manusia super hero atau selebritas yang menjadi panutan dan idola.

Akankah dalam perspektif modernitas, bangsa yang besar adalah bangsa yang melupakan sejarahnya dan mengabaikan para pahlawannya?.
Ataukah sosok pahlawan hadir sesuai dengan selera zaman now?. Meski hanyalah mitos dan menjadi fantasi.

Penulis Yusuf Blegur-Pegiat dan Pemerhati Sosial.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top