Solusi Komprehensif Terhadap Anak Jalanan – strategi.id
Dialektika

Solusi Komprehensif Terhadap Anak Jalanan

Strategi.id - Solusi Komprehensif Terhadap Anak Jalanan

Strategi.id – Sudah sejak lama masalah anak-anak usia sekolah yang menjadi anak jalanan (anjal) muncul sebagai pembicaraan dan isu publik. Tak terkecuali dibincangkan di ruang-ruang diskusi akademik.

Bahkan sampai disolusikan lewat peraturan tertentu, misalnya di DKI Jakarta, diantaranya lewat Perda No 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, kebijakan tentang program KJP/KJP plus.

Begitu juga dengan adanya inisiasi-inisiasi positif dari segelintir masyarakat yang peduli anjal dengan mendirikan rumah-runah singgah, misalnya.

Namun ternyata fenomena anjal ini selalu saja muncul kembali di tengah kita sebagai persoalan ril nan faktual, yang seakan ia tak pernah sudi untuk lenyap sebagai persoalan sosial warga perkotaan meski beragam solusi, inisiasi dan peraturan telah diikhtiarkan.

Apakah masalah  anak usia sekolah yang tidak bersekolah dan menjadi anak jalanan– dimana mereka menjadi pengemis, pengamen, “pak ogah”, pengelap mobil, pekerjaan di sektor-sektor informal, bahkan dalam perkembangannya ada yang terjerat ke dalam bisnis narkoba dan prostitusi anak– memang ditakdirkan bakal menjadi persoalan abadi warga perkotaan?

Tentu saja tidak demikian, bukan. Sebab jika anggapan itu dipakai, hanya akan merendahkan daya nalar dan daya solusi warga kota dan para pemangku kebijakan yang justru dikenal berpendidikan jauh lebih baik.

Dan hanya akan memandegkan ikhtiar yang lebih kuat dan jitu untuk mengatasi persoalan anjal secara radikal dan menyeluruh.

Terkait masalah anjal dengan segenap penyebab yang melatari kemunculannya, juga implikasi-implikasi buruk secara sosial yang dituai dari keberadaannya, saya mendorong beberapa hal sebagai awal bagi penguatan, atau jika perlu koreksi, terhadap program-program penanganan terhadap anjal yang sudah ada sebelumnya.

Pertama, harus dilakukan riset sosialnya komprehensif terkait anjal di kota-kota besar, termasuk di Jakarta, yang didanai Pemprov atau Pemkot setempat.

Untuk memperoleh beragam data dan gambaran sebenarnya tentang anjal dan persoalan yang melayani dan melingkupinya maka riset sosial ini harus menerapkan metode “live-in” bersama anjal maupun keluarga anjal selama beberapa lama.

Bukan mendasari pada data-data statistik yang telah tersedia yang kerap tak menggambarkan kondisi sebenarnya. Dari riset metode live-in yang dilakukan secara seksama dan sungguh-sungguh itulah kemudian akan bisa diperoleh gambaran sesungguhnya tentang penyebab, masalah, kendala, dan segala kemungkinan penanganan yang diperlukan dan dibutuhkan terkait anjal dan keluarga anjal.

Untuk kemudian dirumuskan dan dijalankan kebijakan yang komprehensif dan konsisten dalam menangani anjal, dengan mengerahkan segenap sumber daya yang tersedia, lintas sektoral, lalu dievaluasi secara ketat dan berkala.

Sampai dipastikan tidak ada lagi anjal, dan tak ada lagi anak usia sekolah yang tidak memperoleh pendidikan yang layak.

Kedua, untuk kasus-kasus anak yang tidak bersekolah lagi di usia sekolah karena ikut bekerja di sektor informal membantu orangtuanya, lantaran program beasiswa, atau program semacam KJP/KJP Plus untuk anak tidak mampu tidak menjangkau mereka.

Maka pemerintah setempat wajib peka dan responsif atas keberadaan mereka dengan segera melakukan intervensi. Diantaranya dengan memberikan jaminan bersekolah gratis, atau lewat pemberian beasiswa, atau semacam kartu KJP/KJP Plus.

Sementara kapasitas ekonomi dan kewirausahaan keluarganya diberi rangsangan tumbuh. Atau dalam kasus tertentu, bisa pula orangtua anak bersangkutan diberi pekerjaan padat karya.

Ketiga, untuk mencerdaskan anak tidak selalu pendekatannya dengan cara menyekolahkan di sekolah-sekokah formal.

Dalam kasus-kasus tertentu, pendekatannya adalah bagaimana membuat anak itu terdidik dan terampil meski bukan melalui sekolah formal.

Sebab adakalanya terdapat anak yang justru tidak mau disekolahkan di sekolah formal meski mereka amat senang jika dididik dan diasah keterampilannya.

Sehingga untuk anak-anak jenis ini perlu dikembangkan model-model pendidikan alternatif. Diantaranya mungkin home schooling berbasis masyarakat. Atau sekolah alam berbasis masyarakat.

Keempat, para anjal banyak yang betah menjadi anjal, diantaranya, karena betapa mudahnya mereka mendapat uang dengan ngamen atau minta-minta, atau ngelap-ngelap mobil lewat.

Sehari penuh diperkirakan mereka bisa dapat uang 50 ribu-100 ribu. Sehingga memberi uang kepada mereka sesungguhnya hanya akan membuat mereka kecanduan menjadi anjal.

Untuk itu penegakkan hukum berdasarkan Perda No. 8 Tahun 2007 dalam bentuk sanksi denda dan kurungan bagi pemberi uang kepada anjal haruslah benar-benar dijalankan secara tegas.

Sebab jika tidak, hanya akan membuat anjal betah di jalanan dan berkembang biak.

Penulis Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top