Strategi Singapura Hadapi Resesi Dunia - strategi.id
Internasional

Strategi Singapura Hadapi Resesi Dunia

Strategi.id- Singapore resesi
Strategi.id- Strategi Singapura Hadapi Resesi Dunia

Strategi.id- Bank sentral Singapura (MAS) melonggarkan kebijakan moneternya pada Senin (14/10/19). Pelonggaran yang dilakukan untuk pertama kalinya sejak 2016 itu dilakukan sebagai strategi untuk menghindari terjadinya resesi di tengah perang dagang AS-China.

Sebelumnya, resesi dapat diartikan sebagai kontraksi perekonomian yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut.

Baca Juga : Narasi Menang,Curang dan Perang Versus Metode Ilmiah

Lembaga moneter internasional yaitu IMF (International Monetary Fund) sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di tahun ini jadi 3%, dari sebelumnya 3,2%.

Ini merupakan angka terendah sejak krisis keuangan global pada 2008 lalu. Pemangkasan proyeksi ini akibat perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Dilansir dari AFP, Selasa (15/10/19), perang dagang menurunkan kepercayaan para pebisnis serta membuat investasi dunia lesu. Pada 2020, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,5% menjadi 3,4%.

baca juga : Rupiah Diprediksi Cenderung Melemah, Imbas Perang Dagang AS-China

Menyikapi perekonomian dunia klebijakan moneter Singapura tidak menggunakan suku bunga melainkan melalui pengelolaan nilai tukar.  Dalam hal ini, membiarkan kurs dolar Singapura menguat atau melemah terhadap sekeranjang mata uang mitra dagangnya merupakan cara yang bisa ditempuh.

Pelonggaran moneter dilakukan otoritas moneter dengan sedikit mengurangi laju apresiasi rentang nilai tukar mata uangnya.

“Dalam enam bulan terakhir, perlambatan pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) yang dipengaruhi oleh sektor manufaktur kian meningkat, mencerminkan penurunan pada siklus elektronik global dan juga berkurangnya belanja investasi yang sebagian disebabkan oleh ketidakpastian hubungan AS-China,” ujar MAS.

baca juga : Eks Pejabat WTO Bicara Soal Perang Dagang AS-China

Sebagai negara yang perekonomiannya mengandalkan ekspor, Singapura menjadi negara pertama di Asia yang terkena imbas perlambatan ekonomi global. Hal itu tercermin, dari pertumbuhan ekonomi dan ekspor yang lesu selama beberapa bulan terakhir.

Dalam laporan prediksi awal yang juga dirilis hari ini, perekonomian Singapura pada kuartal III  berhasil menghindari resesi dengan tumbuh 0,6 persen secara kuartalan. Angka ini membaik dibandingkan kuartal II lalu di mana ekonomi Singapura merosot 2,7 persen.

Sektor manufaktur yang menjadi pilar perekonomian Singapura juga merosot 3,5 persen, lebih dalam dibandingkan kontraksi kuartal sebelumnya yang sebesar 3,3 persen.

baca juga : Jasa Marga Dapat Suntikan Dana Rp 23,3 Triliun Dari Perusahaan China

Capital Economics memperkirakan perekonomian Singapura tumbuh 0,5 persen tahun ini.

Ekonom CIMB Private Banking Song Seng Wun mengungkapkan dengan terhindarnya perekonomian dari resesi, otoritas moneter menilai sedikit pelonggaran kebijakan sudah cukup. Bank sentral juga berharap pertumbuhan ekonomi pada 2020 lebih baik dari tahun ini.

Terlebih, AS-China telah menyepakati sebagian perjanjian untuk menyelesaikan perang dagang antara dua perekonomian terbesar itu.

“Mungkin kesepakatan AS-China fase satu menambah sedikit harapan untuk 2020,” ujarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top