Sumpah Pemuda 1928: Pemimpin Zaman Now Punya Andil Besar Lahirkan Pemuda Hebat – strategi.id
Dialektika

Sumpah Pemuda 1928: Pemimpin Zaman Now Punya Andil Besar Lahirkan Pemuda Hebat

Strategi.id - Sumpah Pemuda 1928: Pemimpin Zaman Now Punya Andil Besar Lahirkan Pemuda Hebat
Strategi.id - Sumpah Pemuda 1928: Pemimpin Zaman Now Punya Andil Besar Lahirkan Pemuda Hebat

Strategi.id – Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi tonggak sejarah Kebangkitan Nasional yang sesungguhnya. Itu harus diakui, tentunya tanpa mengabaikan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908. Namun menurut saya, peristiwa 1908 adalah Kebangkitan Nasional bagi Kaum Priayi Jawa, juga peristiwa yang terjadi pada 18 September 1912 (perubahan nama dari Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam) merupakan kebangkitan kaum Islam Nasionalis di bumi Nusantara. Baru lah 28 Oktober 1928, seluruh anak Bangsa Indonesia dari latar belakang suku dan agama menyatakan persatuannya.

Di tengah-tengah keterbatasan dan di bawah ancaman kemungkinan hilangnya nyawa, mereka berani mendeklarasikan diri sebagai suatu Bangsa yang gagah serta menyatakan sumpah bertumpah darah satu , tanah air Indonesia, Berbangsa satu, Bangsa Indonesia dan satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ketika ikrar itu dibacakan, dan lagu Indonesia Raya untuk pertama kali dilantunkan dengan biola dari WR Supratman, menjadi pertanda lahirnya Bangsa Indonesia! Peristiwa itu terjadi hampir seabad lalu, tapi hingga kini ketika kita membaca sejarahnya ataupun melihat cuplikan adegan Sumpah Pemuda di dalam Film WR Supratman, semangat nasionalisme akan membuat hati bergetar dan darah berdesir kencang penuh kebangaan.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi pelengkap semangat perjuangan untuk memerdekakan Bumi Nusantara dari kolonisasi bangsa asing, yang menghisap tanah tumpah darah kita selama ratusan tahun. Juga menjadi cikal bakal berdirinya Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dalam peristiwa berdirinya Bangsa Indonesia 1928 dan Negara Republik Indonesia 1945, pemuda memiliki peran yang sangat besar. Dalam perjalanan pasca kemerdekaan Negara Republik Indonesia, pemuda tetap mengambil posisi sebagai garda terdepan untuk memberikan penyadaran kepada bangsa dan negara.

Terlepas dari ketidak sukaan Pemuda Angkatan 66 yang menumbangkan Presiden Sukarno, harus diakui mereka memberikan sumbangan sejarah dalam pergerakan pemuda di Indonesia. Juga pemuda angkatan 1970-an. Serta Pemuda Angkatan 1998 yang menjadi pelaku sejarah Terbukanya Peran Demokrasi dan Kebebasan Berbicara/Menyampaikan Pendapat yang kurang lebih 32 tahun dikekang di bawah pemerintahan Orde Baru.

Sebagai Pemuda Angkatan Milenial, saya berani mengatakan harusnya partai-partai yang hari ini ada, termasuk Presiden Jokowi yang hari ini menjabat sebagai RI-1, berterimakasih kepada Pemuda Angkatan 1998. Khususnya mereka yang menjadi pelaku sejarah menumbangkan rezim otoriter Orde Baru. Tanpa mereka, belum tentu bisa ada partai-partai dan presiden dari luar lingkaran elite kekuasaan.

Sudah 90 tahun usia Sumpah Pemuda 1928, 20 tahun usia Reformasi 98. Pemuda zaman now, harusnya lebih hebat dari pemuda zaman 1928, 1966 atau bahkan 1998. Namun terkadang kehebatan pemuda zaman now terbentur pada daya dan dan, serta kadang tak bisa berbuat apa-apa karena bukan anak siapa-siapa. Tapi itu seharusnya bukan kendala untuk melakukan sedikit perubahan yang membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, dan menjadikan Indonesia kembali Raya! Pemuda zaman now harus lebih hebat, demikian pula pemimpin zaman now.

Baca juga : Pemuda Indonesia Zaman Now, Jangan Mudah Dihasut dan Terpecah Belah!

Belakangan ada kabar salah satu Cawapres disamakan dengan Bung Hatta. Juga ada capres yang kelihatannya meniru gaya-gaya Bung Karno. Harus diingat, zaman Bung Karno dan Bung Hatta sudah lewat 70 tahun lebih. Keduanya mempunyai tantangan di zamannya sendiri, dan kita mempunyai tantangan di zaman kita sendiri. Platform pemikiran keduanya memang tak lekang oleh waktu dan tak habis dimakan zaman, tapi kalau bicara gaya kepemimpinan serta tantangannya, jelas jauh berbeda.

Baik pemuda zaman now dan pemimpin muda zaman now memiliki tantangan yang berbeda dengan pemuda 1928 dan pemimpin awal-awal Kemerdekaan. Jadi ingat! Bukan sekadar meniru gaya berpakian, berpidato dan lain sebagainya, tapi tirulah kesederhanaan serta ambil platform pemikirannya untuk membuat Indonesia Menjadi Raya!

Pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang hanya memikirkan dirinya dan masa pada saat dia memimpin saja, tapi juga memikirkan bagaimana dia mencetak generasi muda yang akan memimpin setelah dirinya selesai. Pemimpin yang hebat harus bisa menciptakan iklim demokrasi yang memberikan peluang bagi setiap pemuda untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Bangsa dan Negaranya.

Karena bisa jadi, pemimpin hebat bukan datang dari golongan ningrat yang banyak duit, atau pemilik partai politik. Melainkan lahir dari Rakyat Biasa. Oleh karena itu Pemimpin Hebat adalah pemimpin yang bisa menghentikan sistem demokrasi kapitalistik yang oligopoli dan melahirkan demokrasi yang sama rasa sama bahagia di dalam Rumah Bagi Seluruh Anak Bangsa Indonesia.

Penulis Amos Sury El Tauruy, S.Sos aktif sebagai Pengamat Masalah Papua

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top