Taman Sari Internasionalisme dan Nasionalisme; Kesetaraan Bangsa dan Negara Merdeka! – strategi.id
Dialektika

Taman Sari Internasionalisme dan Nasionalisme; Kesetaraan Bangsa dan Negara Merdeka!

Strategi.id - Taman Sari Internasionalisme dan Nasionalisme; Kesetaraan Bangsa dan Negara Merdeka!

Strategi.id – “Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme”. Pidato Sukarno di Sidang BPUPK 1 Juni 1945.

Pascaruntuhnya Uni Soviet pada 1991, yang didahului dengan unifikasi Jerman (peristiwa runtuhnya tembok Berlin) peta geopolitik dunia mengalami pergeseran. Amerika Serikat didaulat menjadi pemenang perang dingin, mengalahkan Uni Soviet.

Liberalisme dan kapitalisme diklaim sebagai sistem yang paling sempurna dan patut diadobsi oleh negara-negara di dunia. Demokrasi dontstruksikan menurut pemahaman tunggal yang dianut oleh Amerika Serikat sebagai negara adi kuasa.

Hingar bingar kemenangan Amerika Serikat dalam perang dingin, santer mulai redup. China yang dahulu dianggap anak bawang mengekor Uni Soviet, muncul sebagai pesaing Amerika Serikat pada awal 2000-an. Negara-negara dengan kekuatan ekonomi dan aliansi ekonomi baru seperti BRICS mulai tampil ke kanca pertarungan global.

Namun, harus tetap diakui rezim-rezim keuangan dan moneter yang telah lebih dahulu dibentuk melalui sistem Bretton Woods warisan JM Keyness dianggap masih sulit tergantikan. Posisi Amerika Serikat sebagai pemain tunggal dalam bidang pertahanan, keamanan dan ekonomi, mungkin saja terguncang dengan kehadiran China. Namun, kaki-kaki Negeri Paman Sam masih kuat dengan kuda-kudanya di seluruh dunia.

Tatanan global seperti inilah yang dahulu sempat diprotes keras oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno. Jika diperbolehkan menafsirkan pemikiran Beliau dalam memandang dunia internasional, ketergantungan antara suatu negara terhadap negara lain adalah suatu hal yang ditentang oleh Sukarno.

Sukarno menginginkan negara-negara di dunia memiliki posisi setara, dan tidak ada lagi bentuk penjajahan dan imperialisme dalam bentuk apa pun. Ketergantungan merupakan penjajahan gaya baru. Ekor mengekor antara negara-negara dengan satu negara yang dianggap sebagai adik kuasa, merupakan imperialisme gaya moderen. Itu yang seharusnya ditentang dan diharamkan.

Sikap nyata Sukarno dalam menentang ketergantungan dan imperialisme gaya baru ditunjukan dengan menyelengarakan Konfrensi Asia Afrika, Menjadi salah satu penggagas Gerakan Non-Blok, dan mempelopori Confrence New Emergence Forces (Conefo). Meski terkesan membuat blok baru dalam tatanan dunia internasional, itu merupakan blok dibentuk dengan menjunjung tinggi kesataraan di antara anggota-anggotanya.

Pada masa perang dingin, para Pendiri Bangsa kita memiliki tekad kuat untuk tidak bergabung ke dua blok yang berseteru (Blok Timur dipimpin Uni Soviet dan Blok Barat dikomando Amerika Serikat). Wakil Presiden Drs. M. Hatta melahirkan istilah “mendayung di antara dua karang”, itulah yang menjadi pandangan politik luar negeri Indonesia.

Pada era-milenials, peta politik global tidak lagi didominasi oleh dua karang. Pascaperang dingin, bermunculan karang-karang lain yang dahulu eksistensinya tertutup oleh dua karang besar. Karang lain seperti, sistem (New) Bretton Woods, The Asian Infrastructure Invetment Bank (AIIB), Amerika Serikat, China, isu-isu lingkungan, isu-isu HAM, dan lain sejenisnya.

Namun banyak yang berpendapat, dua karang yaitu China dan Amerika Serikat, masih menjadi pemain utama dalam peta politik dan ekonomi global. Posisi Indonesia selama hampir dua dekade belakangan seperti ditari ke salah satu dari dua karang besar itu.

Pada dua periode pemerintahan sebelumnya, Indonesia dianggap oleh sejumlah pihak terlalu Amerika Sentris. Pada satu periode lebih pemerintahan yang sekarang berjalan, Indonesia dianggap sebagian pihak terlalu China sentris.

Wakil Kepala BPIP, Prof. Hariyono dalam diskusi memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Rabu (20/05/20) menegaskan Indonesia tidak boleh ikut blok Amerika Serikat maupun China. Kedua negara itu berupaya menguasai Indonesia bukan untuk penyebaran ideologi, tetapi sekadar mencari rejeki di Tanah Air kita.

Dalam kondisi seperti sekarang, Bangsa Indonesia harus pandai dalam menepatkan kepentingan nasional di atas kepentingan lainnya. Indonesia juga jangan sampai larut dalam hegemoni negara-negara besar. Kita harus tetap berupaya hadir sebagai Negara dan Bangsa yang merdeka, setara dengan bangsa-bangsa dan negara-negara lain di dunia.

Kesetaraan dan bekerjasama tanpa rasa ketergantungan merupakan hal yang harus kita upayakan untuk diwujudkan. Itu merupakan perjuangan para Pendiri Bangsa kita dalam pergaulan di dunia internasional.

Penulis: Amos El Tauruy

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top