Terima Kasih – strategi.id
Budaya

Terima Kasih

Strategi.id - Terima Kasih (sumber. Lifehack.org/Huffingtonpost)
Strategi.id - Terima Kasih (sumber. Lifehack.org/Huffingtonpost)

Strategi.id – Jikalau ada sebuah penelitian yang dilakukan untuk menghitung kompositum (kata majemuk) mana yang paling sering digunakan dalam percakapan keseharian, maka yakinlah bahwa kata terima kasih akan menduduki peringkat pertama.

Ungkapan kata terima kasih sudah menjadi kebiasaan umum yang sering digunakan dalam percakapan keseharian. Ironisnya, akibat seringnya digunakan, kata tersebut justru mengalami pendangkalan makna atas maksud yang sesungguhnya.

Kata terima kasih digunakan sekedar sebuah ekspresi kesantunan sosial yang muncul dalam pola interaksi pertukaran dimana ada pihak yang menerima dan ada pihak yang memberi, tak lebih. Padahal kata terima kasih secara idiomatis jauh lebih bermakna dari sekedar itu.

Dalam salah satu ajaran Jawa, ada dikenal apa yang disebut nrimo ing pandum yang secara semantik memiliki makna yang mirip mirip dengan kata terima kasih . Kata nrimo sama artinya dengan terima, ing berarti dalam, sedangkan pandum artinya pemberian, serupa dengan kata kasih yang dalam KBBI juga bermakna beri atau memberi.

Nrimo ing pandum meski memiliki arti yang mirip mirip dengan kata terima kasih , tetapi memiliki makna yang jauh melampaui makna kata terima kasih yang saat ini terjebak dalam kedangkalan makna hanya sebatas sebagai ungkapan ekspresi kesantunan sosial dalam sebuah proses pertukaran yang terjadi antara penerima dengan pemberi. Nrimo ing pandum juga tidak hanya dimaknai sekedar bersikap ikhlas tanpa protes atas segala sesuatu pemberian yang biasanya diterima seseorang dalam bentuk rejeki yang material.

Lebih dari itu, Nrimo ing pandum dalam ajaran Jawa adalah sebuah pemahaman yang muncul dari sebuah kesadaran akan peniadaan diri sebagai bentuk ungkapan atas kesaksian seorang hamba terhadap ke-Maha-an Tuhan Sang Maha Pencipta. Bahwa segala sesuatunya berawal dari ketiadaan sebelum akhirnya menjadi seketika ada karena kehendakNYA, kun faya kun.

Nrimo ing pandum merupakan ungkapan ekspresi sikap, tindakan dan perbuatan dari Syahadat yang berisi sebuah kesaksian diri atas adanya eksistensi Maha Dzat sebagai eksistensi yang tak ada duanya, bukan sekedar kesaksian lisan dalam bentuk ucapan. Nrimo ing pandum memang bukan melisankan syahadat, melainkan bersyahadat yang merupakan perwujudan bukti dari apa yang disyahadatkan.

Suatu proses pembuktian yang maujud dari syahadat hanya bisa dilakukan ketika seseorang telah mengalami tahap peniadaan diri, become no one, menjadi bukan sesiapa dengan melepas berbagai atribut dan label duniawi tentang siapa dirinya. Aku tak lain hanyalah kepatuhanku kepadaNYA, sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat.

Jika saja kata terima kasih secara idiomatis mampu dimaknai dalam pemahaman transendental yang setara dengan makna Nrimo ing pandum, maka kata terima kasih bukan lagi sekadar basa basi busuk yang diucapkan demi kesantunan sosial semata, tetapi lebih dari itu justru untuk saling memanusiakan manusia lain sebagai sesama hamba yang tidak meniscayakan adanya lagi penindasan dan penjajahan antar sesama manusia dan antar sesama bangsa.

Sebagai sesama hamba, kata terima kasih tidak hanya sekedar bebunyian lisan yang diucapkan secara mekanis repetitif hanya sebagai dekorasi sosial, akan tetapi maujud dalam pola sikap hidup interaksional Gotong Royong yang berdaya laku dan berdaya guna sehingga setiap manusia mampu berlaku guna di dalam menjalani kehidupannya secara kolektif kolegial dengan bermanfaat dan penuh makna.

Pada konteks itu, kata terima kasih akan mengalami sublimasi untuk akhirnya melenyap dalam karya karya keagungan peradaban, hamemayu ayuning bawana langgeng , mempercantik indahnya kelanggengan buana.

Terima kasih…

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top