Terlanjur Cinta Indonesia (Refleksi 22 Tahun Reformasi) – strategi.id
Dialektika

Terlanjur Cinta Indonesia (Refleksi 22 Tahun Reformasi)

Strategi.id - Terlanjur Cinta Indonesia (Refleksi 22 Tahun Reformasi)

Strategi.id – Sedulur, telah memasuki tahun ke 22 era reformasi negeri kita dan bagi yang memikul cita – cita kemerdekaan Republik Indonesia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Disadari sebuah kenyataan bahwa sebagai sebuah suatu masa, Reformasi Indonesia begitu pahit dikecap tetapi begitu manis dirasa. Air mata bahagia yang bersemayam diantara benak anak – anak bangsa semoga bukan hanya sebuah utopia atas hadirnya sebuah bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pahit getir kehidupan layaknya mengecap buah maja dan kita dengan indahnya masih bersiteguh untuk sebuah kenyataan bahwa Reformasi harus kita tempuh sebagai sebuah jalan kebangsaan yang kelak menjadi jejak langkah generasi kita di masa yang akan datang. Hari esok belum lagi tiba, tetapi dengan indahnya kita masih saja berharap hal yang sama bahwa kemakmuran dan keadilan akan hadir bersamaan dengan terbitnya matahari di pagi hari.

Untuk sebuah penantian yang larut di temaramnya rembulan, kita begitu merindukan sebuah kenyataan kesejahteraan bagi seluruh golongan tanpa terkecuali. Tanpa terasa, sesekali kita melawan takdir getir bangsa kita dan melawan, disadari bahwa melawan adalah satu – satunya jalan sebagai bangsa pemberani.

Kelak di mahkamah sejarah kita bangsa Indonesia akan meletakkan fondasi kehidupan yang begitu bermakna dan begitu bernilai, dimana ketika mengepalkan jemari sebagai satu – satunya cara dan ternyata kepalan jemari itu berjawab dengan indah yakni kebanggaan kita sebagai bangsa besar, bangsa hebat, bangsa Indonesia; yang dari generasi ke generasi mengarungi jaman dengan segala pertaruhan kehidupan didalamnya.

Ya, sebuah kehidupan yang tak dipertaruhkan memang betul tak layak dimenangkan, sebagai fatsun dan prinsip kehidupaan kebangsaan dan kenegaraan secara tedeng aling – aling kita hentakkan ke seluruh penjuru muka bumi. Tanpa saling mengecilkan peran sesama anak bangsa, kita entitas kebangsaan Indonesia meyakini sebuah kenyataan bahwa segalanya kita pertaruhkan untuk kehidupan yang bermakna dan bernilai.

Bagi kita bangsa Indonesia terlepas dari pro dan kontra, Reformasi Indonesia merupakan torehan sejarah yang nyata adanya dan sedang kita jalani bersama, sambil menyemai kasih kepada sesama kita pertarungkan kehidupan yang fana ini kepada sebuah janji kemerdekaan yang selama – lamanya. Karena bangsa Indonesia gandrung akan kerja – kerja keabadian maka segenap dari kita memahatkan rasa dan karsanya kepada karya, agar kelak generasi kita mewarisi sebuah entitas kebangsaan yang bersemi layaknya bunga di taman sari kehidupan.

Dengan segala derai air mata yang tertumpah ruah, kita bangsa Indonesia bersama – sama menggenggam sebuah janji sederhana yakni selama – lamanya, hingga akhir hayat di kandung badan. Tenangkan hati, tenangkan pikiran dan tetap berpikir jernih, agar segala daya upaya tak sia – sia serta agar segala jerih payah yang dilakukan oleh anak bangsa benar – benar memperoleh hasil yang optimal. Mengarungi kehidupan memang tak pernah mudah tetapi kita harus senantiasa percaya bahwa sebagai bangsa yang mengedepankan proses dalam pencarian hasil dan makna akan menemukan ujung dari pengembaraannya.

Melintasi ruang dan waktu demi menjalani kehidupan juga tak mudah dan kita sesama anak bangsa memiliki kesadaran untuk saling tanggung renteng, urun rembug dan gotong royong satu sama lainnya.

Sebagai bangsa yang sadar proses, Indonesia menetepkan proyeksi keberhasilannya bagi kemakmuran dan kesejahteraan semua golongan, itu sebabnya bangsa kita hanya mengenal tolong menolong satu sama lainnya sesama anak bangsa, kalaupun ternyata pada perkembangannya menghasilkan competitive advantage as a national team itu semua hanyalah dampak dari disiplin dan kerja keras kita semua.

Kalau ternyata gotong royong mampu menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa mercusuar bagi dunia, bukanlah sebagai dampak atau akibat dari kepongahan yang tak berujung pangkal tetapi sebuah perasan keringat yang mengkristal dari doa dan kerja – kerja kemanusiaan bangsa Indonesia.

Sebab bagi bangsa Indonesia sebuah penaklukan adalah terhadap hawa nafsunya untuk menguasai sesuatu sehingga apabila kepongahan atas kepemilikan yang secara material dapat dienyahkan dari segenap bangsa Indonesia, bisa dipastikan bahwa kita telah mencapai sebuah bangsa unggul diantara bangsa – bangsa lainnya.

Sebagai sebuah visi memang bangsa Indonesia berkehendak untuk mencapai sesuatu yang bersifat immaterial sebab gotong royong itu sendiri merupakan immaterial yakni diatas material, keyakinan bangsa Indonesia untuk mencapai beyond matters adalah sebuah cita – cita kemanusiaan yang nyata bagi kita, Indonesia Raya bukanlah sebuah bentuk bangsa yang menghamba kepada posesifitas atas kebendaan melainkan sebuah nation d’etre atau kehendak nasional untuk mencapai keabadian dengan tujuan, cara dan hasil yang benar dan bermartabat.

Tanpa bermaksud untuk mengklasifikasi bangsa Indonesia berdasarkan kelas sosial tetapi bangsa Indonesia bermartabat dan begitu bermakna ketika kesalehan sosial rakyatnya tercipta dimanapun baginya bumi dipijak. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa kerdil yang bergerak sebatas menang atau kalah, atau hanya memproyeksikan kepada kaya atau miskin, bangsa Indonesia adalah sebuah entitas kebangsaan yang berujung pada kesalehan sosial kolektif yang terejawantah dalam segenap perilaku masyarakatnya.

Kelak ketika bangsa Indonesia mencapai puncak peradaban yang unggul, kesalehan sosial bangsa Indonesia bukan lagi berbentuk dengan penghambaan kepada makhluk tetapi ketetapan bangsa Indonesia untuk memproyeksikan dirinya sebagai bangsa yang bermartabat di seluruh penjuru bumi.

Tiang pancang ketetapan kehendak nasional sejak dini bangsa Indonesia merdeka telak tertancap di bumi pertiwi untuk sebuah cita – cita kemerdekaan dimana dengan gotong royong maka kesalehan sosial manusia Indonesia mencapai puncak keunggulannya. Apabila bukan sekarang, kapan lagi? Apabila bukan generasi kita, siapa lagi? Oleh sebab itu, segenap entitas kebangsaan Indonesia harus mempersiapkan dirinya untuk sebuah kegemilangan bangsanya agar tidak gagap proses dan sadar akan apa yang dituju oleh kesadaran dan kehendak nasional yang ingin dicapai.

Reformasi Indonesia adalah sebuah fase dimana kesadaran berbangsa kita bangsa Indonesia menuju tahap pendewasaan perilaku dan sikap kita sebagai sebuah entitas kebangsaan. Jangan biarkan segala pengorbanan segenap entitas kebangsaan Indonesia menjadi sia – sia tanpa makna, jadikan setiap pergulatan kehidupan yang mewarnai bangsa Indonesia menjadi sebuah peristiwa yang layak untuk diperjuangkan dan jadikan segenap prosesnya sebagai pembelajaran yang utuh dan komprehensif atas kehendak nasional yang hendak kita bersama capai.

Entitas kebangsaan Indonesia yang unggul akan mencapai titik kulminasi optimalnya bukan pada kemewahan kebendaan tetapi kesadaran nasional dan kehendak nasional yang immaterial dengan terciptanya kesalehan sosial sebagai hasil mewujudnya kristalisasi dari perjuangan bangsa Indonesia, abadi selamanya.

Kelak, di mahkamah sejarah bangsa Indonesia harus dikenang sebagai sebuah bangsa yang mampu menggapai cakrawala kehidupannya dengan elegan dan beradab. Sehingga dengan segala kerendahan hati kita dapat mengatakan bahwa kita adalah bangsa Indonesia yang merdeka 100% tanpa terkecuali, berdaulat, berdikari dan berkepribadian dalam segenap sepak terjangnya.

Terjaganya kewaspadaan untuk menjaga benang merah sejarah yang konsisten dengan cita – cita kemerdekaan inilah yang sedang dilakukan sekarang dan diharapkan ketika menghadapi mahkamah sejarah kita dalam keadaan mawas diri dan mampu bertanggung jawab dengan kemampuannya untuk menggugah kehidupan menjadi lebih baik dari hari ke harinya agar menjadi bangsa yang kuat, tangguh dan elegan selama – lamanya. Merdeka!!! LIN

Penulis: Achmad Batara Parlindungan ( Jurnalis / Aktivis FKSMJ 98 ).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top