Tidak Ada Yang Istimewa Dari “Blusukan-Nya” Penguasa – strategi.id
Corong

Tidak Ada Yang Istimewa Dari “Blusukan-Nya” Penguasa

Strategi.id – Beberapa dekade terakhir Indonesia mengalami demam baru! demam di sini bukan  bukanlah sebuah wabah penyakit yang menjadi bidangnya ilmu sains. Tetapi wabah yang menyerang hati nurani dan ego sentris manusia yang ingin berkuasa. Wabah itu dinamakan pakar-pakar dan ahli sebagai politik pencitraan. Yang tentunya bertujuan untuk kepentingan para elit-elit borjuasi untuk dapat mencapai kekuasaan.

Ada yang membangun citranya sebagai pemimpin yang santun, ada yang mencitrakan dirinya sebagai dirinya lah yang paling nasionalis ( lantas yang menentang dia adalah tidak nasionalis?), ada yang mencitrakan diri sebagai orang-orang suci, ada juga yang mencitrakan diri sebagai pembela “wong cilik”. Pokoknya elit-elit itu tak akan kehabisan akal dalam membangun citra dirinya utuk berkuasa.

Yang terbaru adalah yang di lakukan si Pakdhe, tercatat sepanjang pengelihatan penulis bahwa dari semenjak menjadi walikota si pakdhe ini memang getol untuk melakukan “turun lapangan”. Bahkan beliau pernah turun langsung dan masuk ke gorong- gorong. Dan sejalan dengan itu istilah blusukan mulai menempel pada pribadi beliau. Bahkan jargon rezim ini adalah “Kerja, kerja, kerja” sepintas terlihat sekali bahwa si pakdhe ini memang hobi kerja lapangan dan menjadi kotor demi Indonesia.

Namun apakah blusukan dan yang di lakukan si pakdhe itu adalah sesuatu hal yang spesial? Apakah mengunjungi site-site pembangunan infrastruktur itu adalah hal special? , apakah tindakan mentri-mentri dan mantan gubernur yang marah-marah adalah tindakan special? Sebagai “pelayan public” tindakan tersebut memang tak bisa di salahkan. Karena memang tugas pelayan public adalah memberi pelayanan terbaik kepada tuannya yaitu 265 juta manusia Indonesia dari Sabang-Merauke.

Tetapi sebagai seorang pemimpin atau sebagai ulil amri  apakah tindakan mereka adalah special? Jawabanku adalah tidak (penulis tidak memaksa pembaca apabila punya pandangan lain) karena memang tugas seorang pemimpin yang utama adalah dekat dengan rakyatnya, untuk bisa dekat dengan rakyatnya seorang pemimpin tidak boleh sekedar duduk-duduk sementara rakyat banting tulang untuk menanggung beban setiap hari.

Dan apakah blusukan itu harus di rayakan dengan kamera dan mendapat sorak sorai dengan motif utama mecitrakan diri? Jawabannya adalah tidak. Meminjam kutipan wawancara dari pesepakbola professional asal Italia yaitu Baloteli, “Saya tidak akan melakukan selebrasi ketika mencetak gol”, begitu kata baloteli, “memangnya apa yang salah dengan selebrasi?” Tanya si wartawan. “Karena mencetak gol adalah tugas saya!, coba anda lihat tukang pos, apakah dia melakukan selebrasi ketika berhasil mengantarkan surat ke alamat yang di tuju?

Jadi apakah blusukan itu special, ya jelas tidak. Justru yang special itu adalah kerja nyata dan program-program yang di buat untuk kesejahteraan massa rakyat, yaitu menjamin pendidikan gratis, ilmiah, demokratis dan bervisi kerakyatan, menjamin kesehatan gratis tanpa syarat, me-nasionalisasi aset-aset vital dan melaksanakan reforma agraria sejati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top