“To Be Or Not To Be”, Indonesia Harus Selamat Melawan Covid 19 – strategi.id
Dialektika

“To Be Or Not To Be”, Indonesia Harus Selamat Melawan Covid 19

Strategi.id- Pertama dan utama, seyogyanya kita menyampaikan rasa simpati, empati dan turut berduka atas saudara-saudara kita yang menjadi korban meninggal akibat Terpapar Covid 19.

Keprihatinan itu juga menjadi persoalan kita bersama yang sedang berjuang, terhindar setidaknya mereduksi penyebaran dan ancaman Wabah pandemik itu.

Baca juga : Persikasi Bekasi Siap Naik Kasta Liga 2

Dunia sedang bergulat menghadapi ujian peradabannya sendiri. Selain konflik dan peperangan yang masih berkecamuk hingga saat ini. Beberapa negara di belahan internasional, kembali menghadapi virus global mematikan yang episentrumnya di wilayah Wuhan China.

Negara yang disebut-sebut telah menjadi kekuatan adidaya, baik secara ekonomi, teknologi dan militer, harus menerima kenyataan pahit sebagai penyuplai penyakit yang mengancam keselamatan manusia sejagad.

Tak terkecuali Indonesia, tidak membutuhkan waktu yang lama, berdasarkan data Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang direlease tgl. 18 Maret 2018, Indonesia sudah mencapai angka 227 orang tersangka positif Corona dan 19 orang meninggal.

Baca juga : Jack Ma Sumbang Masker dan Alat Test Buat Mengatasi Korona di Indonesia

Dengan capaian 8% korban jiwa menempatkan Indonesia tertinggi di dunia dalam persentase dampak Covid 19. Statistik itu itu dipastikan terus meningkat dari hari-kehari seiring upaya pemerintah masih mencari solusi penanganannya.

Lebih mencemaskan dan menjadi catatan penting, eratnya hubungan bilateral antara China dan Indonesia dalam berbagai sektor, membuat intensitas interaksi kedua populasi penduduk yang sangat besar,
memungkinkan pertemuan dan persentuhan secara fisik diantara keduanya.

Baca Juga : BUMN RNI Import Alat Uji Covid -19 dan Sudah Di Indonesia

Hal ini disinyalir menjadi pemicu penyebaran Covid 19. Arus mobilisasi yang pesat warga China ke Indonesia, menjadi titik lemah regulasi dan penegakan aturan yang sesungguhnya bisa meminimalisir dan mencegah potensi menghantar wabah pandemik itu.

Ketahanan Nasional

Lemahnya pembangunan karakter nasional bangsa dan kecenderungan menjalankan roda pemerintahan berdasarkan negara kekuasaan. Menempatkan Indonesia sering mengalami goncangan dan gejolak paling parah dari krisis global diberbagai sektor.

Bukan hanya aspek ekonomi, budaya dan militer, bahkan sampai soal kesehatan yang menjadi faktor utama keselamatan penduduknya. Pemerintah sering terseok-seok menghadapinya.

Baca juga : Ditemukan Interferon Alpha 2B Obat Melawan Korona?

Terutama dikalangan elit politik dan birokrasi, mereka sering gagap dan miskin inisiatif mencari terobosan dan kreatifitas untuk mendapatkan problem solving dari krisis yang dihadapi. Termasuk dalam hal ini fenomena Covid 19.

Terlepas dari “Social Distance Standing ataupun Lockdown” yang diambil sebagai kebijakan nasional dengan berbagai analisis strategis dan dampaknya.

Sampai saat ini, gejala Corona belum bisa dihentikan, malah semakin berkembang dan terus memuncak. Sebaran virus meluas ke beberapa wilayah dan penularan sudah menghinggapi berbagai lapisan masyarakat.

Tak sedikit dari orang biasa hingga pejabat penting terkena imbasnya. Indonesia memasuki situasi gawat darurat dan terancam mengalami ketidakberdayaan dalam keselamatan rakyatnya, tapi lebih dari itu secara substansi juga eksistensi sebagai sebuah negara bangsa.

baca juga : 23 Tahun Kota Bekasi: Patriotisme Mewujud Dalam Pembangunan dan Program Pro Rakyat

Seakan telah terjadi “goverment less”, masyarakat dihantui kematian dan segala resiko dan konsekuensinya dari kemunculan Corona dan akibat susulannya.

Ada rumor dan isu yang mengemuka dan aktual, membandingkan pilihan sekedar menjaga jarak dan interaksi sosial atau isolasi penuh, seperti equivalen dengan bertahan seadanya dari serbuan Corona atau selamat tapi hidup miskin dan mungkin kebangkrutan.


Begitulah psikososial dan psikopolitik masyarakat dan negara ketika dihadapkan pada pilihan Social Distance Standing atau Lockdown.

Sebagai negara dengan jejak rekam yang multi dan unik, seharusnya Indonesia memiliki ketahanan nasional yang kuat ditengah berbagai kelemahannya.

Baca juga : Anak Ningrat Versus Aktivis ’98 dalam Pemerintahan Jokowi

Salah satunya, rakyat sudah terbiasa pasang-surut dan hidup berjarak dengan regulasi pemerintah. Mentalitas yang survival dengan adanya subsidi dan non subsidi pada tataran sektor strategis oleh negara, sesungguhnya mengisyaratkan rakyat akan mampu memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidupnya.

Dalam ekonomi misalnya, rakyat terbiasa dengan harga sembako yang membumbung tinggi. Atau bagaimana biaya pendidikan dan kesehatan yang jauh lebih mahal bahkan dari kebutuhan makannya.

Atau juga banyak rakyat yang tidak peduli berapapun nilai tukar rupiah terhadap kurs dolar Amerika. Betapapun anjlonya rupiah. Secara umum juga, chaos, konflik, ataupun tragedi kemanusiaan paling mengerikan sekalipun, bukan hal baru bagi sejarah dan pengalaman batin bangsa ini.

Semua itu harusnya bisa menjadi modal sosial dan modal politik bagi negara dalam menghadapi krisis yang ekstrim dan akut sekalipun. Tentunya, pemerintah juga harus bisa membangun gerakan nasional melawan Covid 19.

Gerakan yang menempatkan inisiasi, kreasi dan gotong royong sebagai fundamental partisipasi rakyat menghadapi virus Corona yang mendunia itu.

Baca juga : Gunung Anak Krakatau Erupsi Status Waspada

Penanganan berbasis pemberdayaan masyarakat, kemudahan akses dan pengadaan sarana prasarana kesehatan yang memadai akan melahirkan gerakan yang signifikan menanggulangi Covid 19.

Selain pekerja keras dan terkenal ulet, masyarakat yang sabar dan teduh tingkat religiusitasnya ini, idealnya bisa menyelamatkan negara dengan melawan Corona.

Tentunya pemerintah juga harus terbuka dan jujur pada upaya yang telah dijalankan selama ini. Tidak serampangan dalam memberikan statemen, menganggap remeh dan sepele Wabah ini, serta kesungguhan memperlakukan pandemik ini sebagai skala prioritas ditengah kepentingan lainnya.

Baca Juga : Nilai Tukar Dollar Amerika Serikat (USD) Mencapai 15.000 Rupiah

Sama halnya dengan penyebaran virusnya, gerakan nasional melawan Corona harus terstrukur, sistemik dan massif. Juga terintegrasi dan melibatkan partisipasi yang luas, tidak parsial dan tidak terkoordinasi seperti sebelumnya.

Covid 19, bukan hal mustahil bisa hengkang seiring keberanian dan ketulusan bangsa ini. Mungkin saatnya, refleksi kebangsaan seperti menghidupkan kembali nilai-nilai berdikari dan trisaktinya yang menjadi impian pendiri bangsa bisa diwujudkan seraya mempertahankan keberadaan dan keberlangsungan negara bangsa Indonesia.
Semoga.

Yusuf Blegur – Pemerhati dan Pegiat Sosial.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top