Tolak Kawin Anak Berkumandang di SMK Negeri 50 Jakarta – strategi.id
Nusantara

Tolak Kawin Anak Berkumandang di SMK Negeri 50 Jakarta

Strategi.id - Tolak Kawin Anak Berkumandang di SMK Negeri 50 Jakarta

Strategi.id – Pagi hari hingga siang kemarin,Jum’at (28/09/18), di Aula SMK Negeri 50 yang terletak di Jalan Cipinang Muara I No.4 Jakarta Timur dipenuh oleh ratusan siswa-siswi SMKN 50 dan perwakilan siswa-siswi dari beberapa SMP di Jakarta Timur.

Mereka terlihat amat antusias mengikuti acara seminar yang dikemas khusus untuk peserta didik kalangan generasi pascamilenial atau generasi Z, bertajuk. “Seminar Aku Bangga Aku Tahu: Tolak Pernikahan Usia Anak!”

Acara itu terlaksana atas kerjasama Unit Bimbingan Konseling SMKN 50 Jakarta, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) KAWAT (kreatif, aktif, waspada, antusias, dan tanggungjawab) SMKN 50 Jakarta, GERMAS Jaktim, Puskesmas Kecamatan Jatinegara, dan didukung oleh JARANAN dan Tali Jaranan.

Sebelum seminar dimulai, beberapa kelompok siswi tampil membawakan modern dance kreasi mereka sendiri. Mereka tampil baik dan cukup menghibur. Sehingga tepuk tangan dari teman-temannya yang menyaksikan pun bergemuruh.

Sepanjang acara diselingi pula dengan berbagi door prize berupa buku persembahan dari komunitas literasi Tali Jaranan (Taman Literasi Jaringan Anak Nusantara).

Dalam sambutannya, Ketua Unit Bimbingan Konseling SMKN 50 Jakarta. Salamah mengatakan, bahwa acara tersebut digelar untuk menguatkan pemahaman dan kesadaran para peserta didik di lingkungan SMKN 50 Jakarta. Dan para undangan dari sekolah lainnya, tentang dampak buruk perkawinan usia anak bagi masa depan anak itu sendiri.

“Tema ini kami angkat mengingat fenomena perkawinan usia anak tetap saja marak terjadi di pelbagai tempat. Sehingga diperlukan pemahaman dan kesadaran bersama, baik dari orangtua siswa, para guru, dan peserta didik itu sendiri untuk bersama-sama menghalau praktik perkawinan usia anak yang amat merugikan,” ungkap guru bimbingan konseling yang akrab disapa bunda Emma itu.

Sementara Ketua PIK-R KAWAT SMKN 50 Jakarta, Salma Aulia Putri, berharap agar teman-temannya memetik manfaat berharga dari seminar tersebut dan menjadikannya sebagai bahan refleksi bagi kebaikan langkah hidup ke depan.

Borong Pelanggaran

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN) Nanang Djamaludin, yang menjadi narasumber pada seminar itu mengatakan, bahwa praktik pernikahan usia anak atau kawin anak dalam lensa perlindungan anak seringkali merupakan tindakan pelanggaran serius terhadap beberapa, bahkan seluruh prinsip hak-hak anak.

“Pada banyak kasus perkawinan anak, prinsip-prinsip hak anak yang seharusnya ditegakkan justru diborong sekaligus pelanggarannya. Baik itu pelanggaran terhadap prinsip nondiskriminasi, prinsip kepentingan terbaik bagi anak, hak tumbuh dan berkembang anak secara layak, dan penghargaan terhadap pendapat anak,” ujarnya.

Mengingat dampak buruk yang diakibatkan praktik kawin anak, menurutnya, saat ini praktik kawin anak telah menjadi isu yang dikecam secara global. Diperkirakan sekitar 33 ribu anak perempuan dinikahkan setiap harinya di seluruh dunia. Dan dari praktik itu mengakibatkan anak-anak itu menderita dan mengalami pelanggaran HAM serius.

Kekerasan dalam perkawinan juga sering dialami anak perempuan yang terjebak dalam kawin anak. Tak sedikit yang menjadi janda di usia amat belia yang dari situ akhirnya rentan untuk mengisi pos-pos PSK anak. Selain itu anak-anak yang dihasilkan pun lebih berisiko dari segi kesehatan.

“Kebanyakan anak perempuan yang dikawinkan paksa, akhirnya berhenti memperoleh pendidikan layak. Kesempatan mengembangkan kualitas dan keterampilan diri kian sempit. Lalu jadilah mereka angkatan kerja yang rendah secara skill yang pendapatannya pun rendah. Sehingga praktik kawin anak pun sesungguhnya turut melanggengkan kemiskinan,” jelas Nanang yang juga konsultan keayahbundaan dan perlindungan anak tersebut.

Selain soal kawin anak, Nanang juga menyoroti soal kehamilan yang tidak dikehendaki yang banyak terjadi di kalangan anak remaja. Hal itu disebabkan dua hal.

Pertama, minimnya informasi yang baik, benar dan utuh tentang kesehatan reproduksi yang masuk ke dalam sistim pemahaman anak.

Dan kedua, tingginya intensitas informasi keliru seputar masalah kesehatan reproduksi yang masuk ke dalam sistim pemahaman anak, yang berasal dari sumber-sumber menyesatkan, yang akhirnya membentuk sikap dan perilaku seksual yang salah dari anak.

“Menurut data yang ada cuma 35 persen remaja perempuan dan 15 persen remaja laki-laki yang mengetahui adanya resiko kehamilan, jika melakukan hubungan seksual meski sebanyak satu kali sebagian besar remaja perempuan dan laki-laki justru tidak tahu bahkan mungkin tidak mau tahu, bahwa dengan sekali saja berhubungan seksual bisa menyebabkan kehamilan,” Urainya.

Pada kesempatan itu, Nanang juga mengapresiasi Unit Bimbingan Konseling SMKN 50 Jakarta dan PIK-R KAWAT.  SMKN 50 Jakarta sebagai sekolah di Jakarta yang jadi salah satu pelopor dalam membincangkan secara ilmiah. Isu penolakan atas praktik kawin anak yang amat merugikan masa depan anak itu.

“Semoga sekolah-sekolah lain di Jakarta dan daerah lainnya bisa mengikuti jejak kegiatan dan inspirasi positif seperti dilakukan SMKN 50 Jakarta lewat seminar tolak kawin anak ini,” tandasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top