Tuhan pun Diprovokasi - strategi.id
Dialektika

Tuhan pun Diprovokasi

Tuhan pun Diprovokasi

Strategi.id – Jakarta – Tuhan pun Diprovokasi adalah judul yang mengelitik melihat statment yang muncul dari salah satu tokoh yang siap maju di Pilpres 2019.

Ada beda yang sangat mendasar antara memohon dengan memerintah. Memohon biasanya dilakukan oleh pihak yang kurang kepada pihak yang lebih untuk mendapatkan sesuatu hal yang berada diluar kuasanya, sementara memerintah dilakukan oleh pihak yang lebih kuasa kepada pihak yang kurang kuasa agar melakukan suatu hal yang diinginkannya.

Doa adalah salah satu cara yang dilakukan oleh manusia sebagai ciptaan untuk memohon kepada Sang Penciptanya, Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebanyak apapun bahkan jutaan orang sekalipun yang berdoa dalam kapasitasnya sebagai manusia yang memohon kepada Sang Pencipta, tidak lantas secara otomatis memberi kuasa kepada jutaan para pendoa yang sedang memohon untuk boleh mengubah doa permohonan kepada Tuhan menjadi perintah yang memaksa Tuhan agar mengabulkan keinginan mereka.

Mengingat akan kemaha kuasaannya, kalaupun akhirnya Tuhan tidak mengabulkannya, pastilah Tuhan tidak merasa harus malu kepada manusia ciptaanNYA karena seolah telah gagal membuktikan kuasaNYA. Alih alih malu, bahkan besar kemungkinan Tuhan Yang Maha Jenaka sedang tertawa terbahak bahak menyaksikan kebodohan jutaan umat yang justru sedang menantang ke-Maha kuasaannya dengan memaksakan doa permohonannya agar dikabulkan.

Dalam logika terbalik, tanpa rasa malu, Tuhan justru lebih memilih untuk tidak mengabulkan doa jutaan umat yang “memohon” ganti presiden hanya untuk membuktikan bahwa tidak ada satupun mahluk ciptaan termasuk juga manusia yang bisa dengan gegabah mengintervensi keutuhan eksistensi diriNYA sebagai Yang Maha Kuasa.

Bahkan jikalau tersedia opsi selain ganti Presiden, dalam konteks demokrasi, Tuhan lebih “tidak akan merasa malu” memilih opsi untuk ganti umat ketimbang ganti presiden. Pertimbangannya tentu bukan serta merta karena Tuhan berpihak membela dan mendukung Jokowi sebagai Presiden, tetapi lebih karena Tuhan tidak lagi percaya dengan kemampuan pemuka pemuka agama dalam membimbing umatnya untuk mampu bernalar waras dan berpikir dengan akal sehat agar memiliki hikmat kebijaksanaan dalam memilih siapapun yang akan menggantikan Jokowi sebagai Presiden.

Bagi Tuhan masalahnya bukan siapa yang terpilih jadi Presiden, Jokowi atau bukan Jokowi, sama sekali tidak penting. Namun yang lebih utama adalah seluas dan sedalam apa hikmat kebijaksanaan yang dimiliki umat sehingga menjamin dan memastikan bahwa siapapun yang terpilih nantinya sungguh sungguh mampu menjalankan amanat konstitusi yang ada di dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai perwujudan langsung dari alinea ketiga yang dinyatakan sebagai berikut, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Pada konteks itu para pemuka agama seharusnya malah bersungguh sungguh dalam membimbing dan memberikan pencerahan kepada umatnya agar mampu bernalar waras dan berpikir dengan akal sehat supaya memiliki hikmat kebijaksanaan sehingga dengan demikian justru tidak mempermalukan dan menghinakan Tuhan yang telah menciptakannya.

Tapi jikapun benar apa yang disampaikan oleh Amien Rais dalam dalam pidatonya di acara buka bersama kader PAN di kediaman Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di wilayah Jakarta Selatan, Sabtu (9/6), bahwa, “Allah akan malu jika tidak mengabulkan doa jutaan umat…,” maka pertanyaannya kemudian, “Sebagai seorang pemuka agama, lantas apakah Amien Rais sendiri akan taubatan nasuha jika ternyata tidak terbukti Allah mengabulkan doa jutaan umat seperti apa yang disampaikannya?” Kalo meminjam bahasa anak sekarang “Tuhan kok diprovokasi”.

——

Ditulis oleh Mahendra Dandhi Uttunggadewa seorang tokoh Aktivis FKSMJ’98 dan sekarang menjadi pemerhati kebudayaan serta kolumnis strategi.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top