Usulan Debat Bahasa Asing, Mental Terjajah Pilpres 2019 – strategi.id
Dialektika

Usulan Debat Bahasa Asing, Mental Terjajah Pilpres 2019

Strategi.id - Usulan Debat Bahasa Asing, Mental Terjajah Pilpres 2019

Strategi.id – Prabowo-Sandi tantang kubu Jokowi-Ma’ruf menggunakan bahasa Inggris saat debat kandidat capres-cawapres mendatang. Tantagan itu direspon positif oleh salah seorang Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf juga Wasekjen DPP PPP Indra Hakim Hasibuan. Indra mendukung debat berbahasa Inggris, dirinya juga menambahkan perlu diberikan sesi debat berbahasa Arab dan tes baca Alquran bagi para Kandidat Pilpres 2019.

Reaksi beragam muncul dari sejumlah pihak, baik politisi maupun pengamat politik. Salah satunya tanggapan dari pengamat politik Boni Hargen yang menyatakan debat berbasa Inggris maupun Arab, tidak lah kontekstual. Sementara itu Peneliti The Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menganggap debat berhasa Inggris itu norak. Negara lain di dunia, menggunakan bahasa ibu negaranya dalam debat kandidat capres-cawapres.

Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin mengatakan debat kandidat berbahasa Inggris dan Arab tidak penting, karena Indonesia punya bahasa resmi yang diakui sebagai bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Namun jika kedua belah pihak menyepakati, tidak menutup kemungkinan bahsa Inggris maupun Arab digunakan dalam debat. Seperti yang terjadi di sejumlah daerah pada Pilkada 2018, sesi untuk menggunakan bahasa daerah diakomodir sesuai dengan kesepakatan para kandidat.

Jika pada pilkada bahasa daerah digunakan dalam debat, itu jelas tidak menjadi masalah. Karena penggunaan bahasa daerah merupakan salah satu bentuk menghargai kearifan lokal (local wisdom) yang dilindungi oleh UUD 1945. Namun ketika bahasa Inggris dan Arab digunakan, apa substansi yang mau disampaikan, baik oleh Kubu Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Ma’ruf? Apakah sekadar ingin menunjukan kemampuan masing-masing saja di hadapan para pemilik hak pilih atau ada upaya untuk saling menjatuhkan satu sama lain?

Melihat fenomena ini, saya jadi teringan dengan sebuah cerita dari negeri Jepang. Pascaperang dunia kedua (PD II) 1945, terjadi perombakan total dalam pola kehidupan politik, sosial dan kebudayaan Rakyat Jepang. Segala-galanya diatur dan dikendalikan oleh Sekutu di bawah Pimpinan Amerika Serikat. Budaya menghormati Kaisar Jepang sebagai Keturunan Dewa, sedikit dikurangi. Ketika bahasa Jepang ingin dihapuskan, Kaisar Jepang konon katanya memohon dengan kerendahan hati kepada pihak Sekutu agar bahasa Jepang jangan dihapuskan serta tetap diperbolehkan untuk digunakan.

Peristiwa itu berbanding terbalik dengan yang terjadi sekarang di Indonesia. Dengan mudahnya kubu yang bertarung dalam kontestasi Pilpres 2019 saling tantang menantang debat berbahasa asing. Entah apa motive di balik tantangan dari masing-masing kubu, tapi yang pasti kedua kubu tidak lagi melihat bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa ibu yang harus dilestarikan. Terutama bagi kubu Prabowo-Sandi yang terlebih dahulu menantang debat berbahasa Inggris.

Sering kali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari orang lebih bangga menggunakan bahasa Inggris atau asing ketimbang menggunakan bahasa Indonesia. Padahal dalam semngat Sumpah Pemuda 1928 (Kongres Pemuda II), salah satu dari tiga point yang disepakati adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Kini bahasa ibu tak lagi dijunjung tinggi, bahkan ada kesan dan upaya untuk dihapuskan. Orang yang berbicara bahasa Indonesia, sering dianggap kuno. Nilai seseorang dianggap lebih lantaran dia pandai berbahasa Inggris atau asing.

Pandai berbahasa Inggris adalah sebuah keniscayaan di era globalisasi seperti sekarang ini. Namun bukan berarti kita harus meninggalkan jati diri serta bahasa ibu kita, yakni bahasa Indonesia. Negara-negara maju seperti Prancis, Jepang dan China, masih tetap mempertahankan bahsa ibu negara mereka. Bahkan, jika kita berkomunikasi dengan bahasa Inggris, orang Prancis sering membalasnya dengan bahasa Prancis. Sama halnya dengan orang Jepang yang konon katanya lebih menghargai jika kita bisa berkomunikasi dengan bahasa ibu kita, daripada harus memaksakan diri berbahasa asing.

Debat berbahasa Inggris dan Arab dalam Pilpres 2019 menurut saya menjadi pertanda bahwa mental sejumlah oknum elite negeri masih terjajah. Teringat perkataan seorang Sosialis Itali Antonio Gramsci, untuk membebaskan sebuah bangsa dari penjajahan fisik hanya dibutuhkan sedikit waktu, tapi membebaskan bangsa dari mental yang terjajah dibutuhkan waktu yang sangat panjang. Disadari atau tidak, keren-kerenan debat berbahasa Inggris dan Arab menjadi salah satu pertanda yang menunjukan mental terjajah dari oknum-oknum di bangsa kita.

Penulis : Amos Sury El Tauruy, S.Sos aktif sebagai Pengamat Masalah Papua

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top