Virus Corona: Alami atau Realita yang Dikonstruksikan? - strategi.id
Corong

Virus Corona: Alami atau Realita yang Dikonstruksikan?

Strategi.id - Virus Corona: Alami atau Realita yang Dikonstruksikan?

Strategi.id – Dari beberapa literasi media yang penulis amati, penulis menemukan beberapa informasi yang mengatakan bahwa Virus Corona berasal dari sebuah pasar hewan di Wuhan, China. Virus ini menular ke manusia karena ada seorang manusia yang mengkonsumsi daging kelelawar yang tidak sehat. Kelelawar tersebut diyakini sebagai inang atau penyebab utama dari penularan kepada manusia. Setidaknya ini adalah yang diyakini dan dipublikasikan oleh Fadela Chaib, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Setelah menyebar ke bebearapa negara, WHO memberi nama virus ini dengan sebutan Covid-19, yang berarti Corona Virus Disease yang ditemukan di akhir tahun 2019. Nama Corona sendiri diambil dari bahasa Latin yang berarti mahkota, karena Virus Corona memiliki bentuk paku yang menonjol yang menyerupai mahkota.

Berbeda dengan WHO, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan bahwa Virus Corona berasal dari sebuah laboratorium riset di Wuhan, China. Mantan Direktur Central Intelligence Agency (Badan Intelijen Amerika Serikat) ini memiliki bukti kuat bahwa virus ini direkayasa secara genetika. Sejalan dengan Pompeo, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyakini informasi yang berasal dari intelijen tersebut. Trump menuduh China menggunakan alasan Pasar Wuhan sebagai upaya untuk menutupi kelalaian China dalam mengendalikan kejadian di Laboratorium Institut Virologi Wuhan yang letaknya tidak jauh dari Pasar Wuhan. Beberapa negara Uni Eropa juga meyakini China menyebarkan informasi palsu terkait awal mula penyebaran virus ini.

Beberapa peneliti meyakini Covid-19 adalah virus flu yang sudah beradaptasi dan bermutasi sejak tahun 1960. Namun sejak merebaknya wabah Severe Accute Respiratory Syndrome (SARS), virus ini baru dikategorikan sebagai virus yang berbahaya bagi manusia. SARS pertama kali ditemukan di Provinsi Guangdong, China, pada bulan November 2002. Virus ini kembali mengancam keselamatan umat manusia pada tahun 2012 saat dunia dilanda wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Arab Saudi merupakan negara yang pertama kali melaporkan adanya orang yang terjangkit MERS.

Data Worldometers menunjukkan ada 4.521.174 orang di 215 negara yang terinfeksi Virus Corona sampai dengan hari Jumat 15 Mei 2020. Tercatat 296.972 orang meninggal dunia dan yang berhasil sembuh ada 1.646.939 orang. Sampai dengan tulisan ini dibuat, data ini masih terus berubah-ubah. Grafiknya masih terus naik, menunjukkan peningkatan jumlah orang yang terinfeksi. Amerika Serikat, Spanyol, Rusia, Inggris, dan Italia adalah lima negara teratas yang terinfeksi Covid-19. Sementara itu China ada di urutan ke-13 dan Indonesia berada di urutan ke-34 dengan jumlah kasus yang dilaporkan ada sebanyak 16.496 kasus. Data Worldometers ini sejalan dengan data yang disampaikan oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Indonesia.

Sejak awal, Menteri Kesehatan Indonesia Terawan Agus Putranto sudah mengatakan bahwa Virus Corona ini adalah virus yang akan sembuh sendiri atau self limiting disease. Oleh sebab itu Pemerintah Indonesia meminta agar masyarakat tetap tenang dan melakukan protokol kessehatan yang dianjurkan. Jaga imun tubuh, cuci tangan, memakai masker, jaga jarak, dan jangan keluar rumah bila tidak mendesak (diam di rumah). Setidaknya itu adalah beberapa poin utama dari protokol kesehatan yang disarankan oleh pemerintah Indoensia.

Namun, buruknya komunikasi dan penanganan awal pemerintah membuat banyak warga yang panik. Belum lagi media-media mainstream yang terus memberitakan jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal semakin meningkat. Kisah-kisah tragis dari orang yang terinfeksi dan meninggal karena Virus Corona terus dieksploitasi dan dikapitalisasi oleh media. Disinilah terjadi eskalasi atau peningkatan rasa takut di masyarakat. Rasa takut, cemas, dan stres merupakan beberapa tanda dari gejala umum psikosomatik. Bila didiamkan, psikosomatik dapat menurunkan imun tubuh seseorang. Tentu ini berbahaya bagi keselamatan orang tersebut. Selain itu, beberapa media sosial juga menunjukkan video orang yang terinfeksi Virus Corona, mengalami kejang-kejang akibat kesulitan bernafas. Banyak video-video yang memberikan kesan seram atau rasa takut akibat Virus Corona tersebar luas di media sosial.

Algoritma media sosial membuat para pengguna media sosial hanya akan menerima informasi yang sesuai dengan preferensinya. Hal ini yang dinamakan dengan echo chamber, yaitu suatu kondisi dimana media sosial seolah-olah menjadi ruang tertutup yang hanya memantulkan gema perspektif atau pandangan yang telah dipilih oleh para penggunanya. Belum lagi beberapa pengguna media sosial cenderung lebih mempercayai informasi yang disebarkan oleh teman dekat atau kelompoknya. Meskipun terkadang informasi itu hoaks, namun informasi itu terus menyebar melalui ruang-ruang privat media sosial seperti. Kondisi ini kemudian memunculkan apa yang dinamakan sebagai efek filter bubble, yaitu suatu kondisi dimana pengguna media sosial cenderung hidup dalam gelembung keyakinannya sendiri.

Akibat dari kondisi tersebut membuat polarisasi masyarakat dalam realitas media sosial. Ada orang-orang yang percaya kalau Virus Corona adalah sebuah virus yang benar-benar ada, berbahaya, dan mematikan. Sementara di satu sisi ada orang-orang yang mempercayai kalau Covid-19 adalah sebuah konstruksi realita oleh sekelompok orang yang memiliki kepentingan untuk dirinya sendiri atau kelompoknya. Dengan kata lain orang-orang tersebut meyakini bahwa informasi yang tersebar di media tentang Covid-19 adalah sebuah kebohongan.

Namun, kebohongan sering kali diyakini sebagai sebuah kebenaran. Josef Goebbels, Menteri Propaganda era Nazi Jerman mengatakan “kebohongan yang diulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran”.

Penulis: Yohanes Ray Ginjara (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top