Wamenkeu : Perang Tarif Memberikan Konsekuensi Terhadap Pasar - strategi.id
Infrastruktur

Wamenkeu : Perang Tarif Memberikan Konsekuensi Terhadap Pasar

strategi.id -Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng (keempat kiri), Direktur Co-Financing Operations Asian Development Bank Jacob Sorensen (kedua kiri), Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank Sinthya Roesly (ketiga kiri), CEO Standard Chartered Bank Indonesia Ltd Donny Donosepoetro (kedua kanan), Co Founder dan Presiden Bukalapak Fadjrin Rasyid (kanan) dan Moderator Timothy Marbun (kiri) menjadi narasumber dalam Diskusi Panel Indonesia Eximbank yang menjadi bagian dari Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Grup 2018 di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10). Diskusi panel itu diselenggarakan dalam rangka menjalin kerjasama antar negara berkembang untuk menciptakan strategi dan solusi dalam menghadapi isu ekonomi terkait perdagangan global. ICom/AM IMF-WBG ( Foto : Wisnu Widiantoro/wsj/2018/ infopublik.id)
strategi.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng (keempat kiri), Direktur Co-Financing Operations Asian Development Bank Jacob Sorensen (kedua kiri), Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank Sinthya Roesly (ketiga kiri), CEO Standard Chartered Bank Indonesia Ltd Donny Donosepoetro (kedua kanan), Co Founder dan Presiden Bukalapak Fadjrin Rasyid (kanan) dan Moderator Timothy Marbun (kiri) menjadi narasumber dalam Diskusi Panel Indonesia Eximbank yang menjadi bagian dari Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Grup 2018 di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10). Diskusi panel itu diselenggarakan dalam rangka menjalin kerjasama antar negara berkembang untuk menciptakan strategi dan solusi dalam menghadapi isu ekonomi terkait perdagangan global. ICom/AM IMF-WBG ( Foto : Wisnu Widiantoro/wsj/2018/ infopublik.id)

Strategi.id – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo, mengatakan bahwa ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif memberikan memberikan konsekuensi terhadap pasar. Adanya peningkatan signifikan terhadap tarif impor semakin menekan volume dan kinerja ekspor, Nusa Dua-Bali, (9/10/18)

“Keadaan ekonomi global saat ini menuntut pentingnya kerjasama selatan-selatan, terutama untuk menciptakan respon, serta strategi dalam menangani berbagai situasi yang terjadi,” ujar Wamenkeu.

Hal ini disampaikan dalam diskusi panel yang bertajuk The Growing Importance of South-South Cooperation Amid Trade Tensions and Global Financial Market Volatility dalam rangkaian acara IMF-WBG Annual Meetings 2018 pada Selasa (09/10) di Sofitel, Nusa Dua, Bali.

Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank. LPEI bertugas untuk menyelenggarakan Program Ekspor Nasional. Prioritas pembiayaan LPEI adalah mempertahankan kemampuan industri padat karya, menumbuhkan multiplier effects ekonomi rakyat, dan mengembangkan chanelling produk Indonesia di pasar ekspor.

Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, Sinthya Roesly menyampaikan bahwa diskusi panel ini bertujuan untuk mendapatkan pandangan dari panelis yang merupakan ahli di bidang terakit, seperti: Pemerintah, Bank Sentral, Eximbank, serta Institusi Keuangan untuk mengeksplorasi beberapa poin terkait cara memperkuat daya saing UKM berorientasi ekspor dalam e-commerce global.

Wakil Menteri juga menjelaskan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok memberikan dampak besar pada pasar global. Keadaan ini merupakan tantangan bagi pemerintahan seluruh dunia untuk menetralisir keadaan dan tetap menjaga kesejahteraan masyarakat termasuk indonesia.

“Ditengah perang dagang global, pemerintah Indonesia akan bergerak aktif dalam meningkatkan sektor manufaktur, pemerintah akan mendukung penuh sektor industri, dan mereformasi perpajakan dalam rangka mendukung sektor manufaktur dan meningkatkan aktivitas ekspor,” tutur Wamenkeu.

Dalam pembahasan diskusi, ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif serta dampak dan konsekuensinya terhadap pasar berkembang. Adanya peningkatan signifikan terhadap tarif impor, semakin menekan volume perdagangan internasional dan kinerja ekspor. Selain itu, tingginya ketergantungan terhadap mata uang dolar, akan membebani pembiayaan eksportir.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya Kerja Sama Selatan-Selatan, terutama untuk menciptakan respon serta strategi yang potensial untuk mengatasi situasi yang terjadi. Selaras dengan salah satu tujuan dari diselenggarakannya Kerja Sama Selatan-Selatan yaitu untuk membuka peluang serta penetrasi pasar.

“Untuk melakukan penetrasi pasar, LPEI dukung pembiayaan ke negara-negara di kawasan Afrika dan ini sejalan dengan Penugasan Khusus yang diberikan Pemerintah melalui KMK No.787/KMK.08/2017,” jelas Dwi Wahyudi, Direktur Pelaksana I LPEI.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top