Wonosobo Jawa Tengah Keberagaman Indonesia Sebenarnya - strategi.id
Nusantara

Wonosobo Jawa Tengah Keberagaman Indonesia Sebenarnya

Strategi.id – Singkong goreng, salak, dan lemper terhidang di meja menemani carica, buah khas Wonosobo, Jawa Tengah. Sang tuan rumah, Kyai Haji Ahmad Haidar Idris tampak gayeng menerima tamu dari Istana siang itu.

Imam Masjid Agung Al Manshur, Wonosobo itu mempersilakan Doktor Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan untuk mencicipi carica, sejenis buah pepaya mini. Deputi Lima Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramordhawardani turut menemani mereka, Kamis, (15/11/18), siang itu.

Tak lama berselang, KH Ahmad Haidar mengajak Moeldoko menuju Masjid Agung. Disana telah berkumpul sekitar 300 an orang memenuhi sebagian masjid yang telah berusia sekitar 200 tahun itu.

Mereka yang hadir bukan hanya muslim yang menjadi jamaah tetap masjid. Namun juga penganut agama lain, bahkan para pemeluk aliran-aliran minoritas turut hadir.

Baca Juga : Jokowi-JK, Moeldoko Ajak Kembangkan ‘Politik Cinta Kasih’

Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia bahkan perwakilan dari luar negeri. Para tamu itu sedang ikut serta dalam Festival Hak Asami Manusia (HAM) yang dimulai Selasa, (13/11/18) lalu. Tidak kurang dari 66 organisasi dari dalam dan 5 lembaga internasional mengirimkan utusan.

Pada kesempatan itu Moeldoko mengingatkan alasan mereka berkumpul saat ini di Wonosobo. Berkumpulnya antar umat beragama bukan untuk menyamakan keyakinan. Tapi membangun kesadaran bersama ikut mengembangkan dan memahami nilai-nilai kemanusiaan.

“Keberagaman itu menjadi potensi, bukan malah menjadi ancaman,” kata Moeldoko pada para hadirin. Potensi tersebut yang harus membentuk harmonisasi. “Seperti gamelan. Semua unsur bunyi dengan harmonis yang bisa jadi kekuatan,” Moeldoko mengibaratkan.

Mantan Panglima TNI itu sangat mengapresiasi yang hadir adalah mereka yang peduli pada toleransi. “Inti toleransi adalah tidak ada lagi minoritas dan mayoritas,” kata Moeldoko. Selama bangsa ini masih mempersoalkan mayoritas dan minoritas, tidak akan pernah maju. Wonosobo dipenuhi oleh berbagai agama dan rukun. Tapi semua hidup rukun sehingga Wonosobo menjadi model daerah yang toleran.

Baca Juga : Moeldoko: Jangan Sampai Pileg dan Pilpres 2019 Merusak Persatuan

Pemilihan Wonosobo sebagai tuan rumah bukanlah tanpa alasan. Kabupaten ini merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai kota yang peduli pada kesetaraan HAM.

Kota dataran tinggi yang berudara sejuk ini, pada masa penjajahan Belanda dikenal sebagai kota yang menjadi tempat peristirahatan.

Ciri-ciri tata kotanya masih dipengaruhi arsitektur Eropa. Misalnya, infrastruktur trotoar yang tinggi. Namun setelah deklarasi Human Rights City pada 2014, pemerintah daerah memperbaiki infrastrukturnya. Fasilitas kota yang lebih ramah bagi pengguna kursi roda.

Pemerintah daerahnya pun berbenah. Mereka menggagas sebagai daerah ramah hak asasi manusia (HAM) yang layak dihuni semua golongan. Masyarakat mendapatkan pelayanan kebutuhan dasar sebagai warga negara.

Kebutuhan dasar manusia seperti pangan, pendidikan, kesehatan, hingga rasa aman didapatkan sama bagi setiap warga. Tak heran jika Wonosobo mendapat gelar sebagai kabupaten ramah HAM.

Baca Juga : Moeldoko: “Hoaks Meracuni Bangsa “

Kesadaran masyarakat Wonosobo pada HAM tak lepas dari sejarah Masjid Al Manshur. Masjid ini dikenal sebagai pusat penyebaran agam islam di bumi Wonosobo, dan menjadi pendirian cikal bakal Kabupaten Wonosobo.

Tokoh penyebar Agama Islam di wilayah Wonosobo yakni Kyai Walik. Kyai Walik sendiri disebut sebagai perancang kota, yang dikenal sangat dekat di hati masyarakat. Masjid Al Manshur juga diketahui sebagai pekaringan atau tempat berjemur para wali. Di Masjid ini juga dikenal karena terdapat bencet atau jam matahari yang menjadi pathokan waktu salat.

Salah satu tradisi di Al Manshur, setiap sabtu selalu menggelar pengajian yang disebut setonan. Jamaah datang dari berbagai daerah dan terus mengalami peningkatan. Setidaknya 1.500 orang hadir setiap Sabtu.

Mereka datang dari organisasi Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, bahkan aliran-aliran lain yang hingga kini tersisihkan. Mereka mengaji di masjid yang sama, kitab yang sama.

Sepulang mereka, seringkali membawa carica sebagai buah tangan. Seperti sajian siang itu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top