Workshop Zero Waste Menginspirasi Pengelola RPTRA Jakut – strategi.id
Nusantara

Workshop Zero Waste Menginspirasi Pengelola RPTRA Jakut

Strategi.id - Workshop Zero Waste Menginspirasi Pengelola RPTRA Jakut
Strategi.id - Workshop Zero Waste Menginspirasi Pengelola RPTRA Jakut

Strategi.id – Sampah masyarakat Jakarta sekitar 7.000 ton perhari, dengan 1.900-2.400 ton merupakan sampah plastik yang amat sulit terurai, terus saja menjadi ancaman yang sangat serius dikehidupan masyarakat. Bahkan terus saja lahirkan persoalan yang kian kompleks terhadap kualitas ekosistim lingkungan masyarakat Jakarta.

Meskipun UU No.18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah dan juga Perda DKI Jakarta No.3 tahun 2013 tentang Pengelolaan-Sampah sudah ada sejak lama, namun hal itu terus saja loyo dalam menciptakan sebuah sistim pengelolaan sampah yang baik di tengah masyarakat seiring gagalnya menularkan gaya hidup minim sampah (zero weste) kepada masyarakat.

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nasional (JARANAN) Nanang Djamaludin menyampaikan pokok-pokok pikirannya itu kepada 75 pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) se-Jakarta Utara dalam kegiatan “Workshop Zero Waste, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat agar Sampah Berdaya Guna dan Bernilai Ekonomis”, di aula RPTRA Sutra Indah I, (21/4/19).

Baca Juga : Anak-Anak di Tiga RPTRA Jakut Terpana dan Gembira dihibur Pendongeng

Kegiatan dalam rangka memperingati hari Kartini dan Hari Bumi (22 April) itu merupakan kerjasama Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Sudin Pusip) Jakarta Utara dan JARANAN.

Nanang menyebutkan, dalam konteks sampah plastik, misalnya, sepanjang enam bulan terakhir sejak akhir tahun 2018 hingga saat ini, tercatat setidaknya tiga ekor ikan paus yang tewas di pelbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia, karena di dalam tubuhnya terdapat timbunan sampah plastik puluhan kilogram.

“Timbunan sampah, termasuk sampah plastik, yang terus saja terlihat menyelimuti pantai dan laut Jakarta, serta akumulasi sampah Jakarta yang menciptakan gunung sampah sekitar 25 meter di TPS Bantar Gebang Bekasi, seakan mengonfirmasi betapa masyarakat Jakarta cuma terlatih ciptakan sampah tanpa kehendak bersama berbuat bijak melakukan reduce, reuse dan recycle.

Alih-alih secara publik menjadikan sampah sebagai salah satu sumber pendongkrak nyata kualitas kehidupan. Itulah ironi terbesar masyarakat Ibukota yang katanya sebagaian besar berpendidikan lebih baik,” ungkap Nanang.

Pria yang terlibat di banyak sosialisasi Perda DKI Jakarta No.3 tentang Pengelolaan Sampah bersama anggota DPRD DKI Jakarta itu juga mengajak para pengelola RPTRA di Jakarta Utara untuk ambil bagian dalam menginisiasi sebuah praktik baik pengelolaan sampah berbasis masyarakat di sekitar RPTRA.

“Apapun bentuk inisiasi praktik baik itu, entah itu pendirian bank sampah komunitas, sentra kerajinan daur ulang bernilai ekonomi, membersihkan sampah di saluran air pemukiman untuk kemudian memanfaatkannya untuk beternak ikan bersama-sama, atau membuat eco brick untuk membangun balai warga misalnya, maka lakukanlah kepepoporan seiring pendekatan dan penyadaran sebaik-baiknya kepada masyarakat, sehingga efek perluasan dukungan dan partisipasi masyarakat sekitar RPTRA atas inisiasi praktik baik itu,” tukas Nanang.

Nara sumber lain di workshop itu Imam Sunarto, yang juga fungsioasris JARANAN, menyebut, para pengelola RPTRA di Jakarta Utara sebagai salah satu refresentasi lokal genius amat potensial menjadi inspirator dan penggerak ke arah perubahan gaya hidup zero waste bagi masyarakat sekitar RPTRA yang jadi tempatnya bertugas.

Imam mengusulkan, RPTRA melalui pengorganisasian tertentu yang disepakati bersama secara adil, sebenarnya bisa mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat tingkat lokal. Misalnya, selain jadi tempat pembuatan kompos skala kecil dari sampah organik masyarakat setempat yang kemudian bisa dipakai masyarakat sekitar bahkan dijual, bisa juga menjadi tempat mencacah botol-botol plastik yang dihasilkan masyarakat sekitar.

Baca Juga : Workshop Literasi Jurnalistik Bela Negara di SUDIN PUSIP JU

Hal itu mengingat sebenarnya fungsi RPTRA selain untuk menyediakan ruang terbuka yang ramah anak, RPTRA juga berfungsi menyediakan sarana dan prasarana untuk pelaksanaan kegiatan 10 program pokok PKK, serta sebagai sentra kegiatan UMKM yang bersifat lokal.

“Saya rasa Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta perlu memasilitasi penyediaan perlengkapan pembuatan kompos dan mesin pencacah plastik di setiap RPTRA yang ada. Alatnya itu kan tidak besar, namun justru sangat bermanfaat dalam mengurangi volume sampah warga sekitar dan bisa bernilai ekonomis. Tinggal lurah, ketua PKK Kelurahan dan PKK Kecamatan bisa mengambil peran dalam memastikan penggunaannya agar benar0benar bermanfaat bagi warga sekitar,” imbuhnya.

Lalu Elvi Yetni dan Ana Rohanah memperlihatkan pada peserta pelbagai produk berbahan sampah, seperti sampah kertas, gelas dan botol air mineral, saset kopi, guntingan kain bekas. Peserta workshop pun dengan suka cita memraktekkan pembuatan perhiasan berbahan kertas bekas.

Dari pagi hingga siang acara yang dipandu Indah Prastiswi itu berjalan seru, akrab, dan menerbitkan inspirasi banyak peserta. Tak ketinggalan aneka hadiah dari narsum pun dibagikan kepada para peserta

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top