Yang penting Jokowi Presidennya, bukan Cawapresnya "Ma'aruf Amin" - strategi.id
Corong

Yang penting Jokowi Presidennya, bukan Cawapresnya “Ma’aruf Amin”

Yang penting Jokowi Presidennya, bukan Cawapresnya "Ma'aruf Amin"
Yang penting Jokowi Presidennya, bukan Cawapresnya "Ma'aruf Amin"

Strategi.id – Akhir dari sebuah teka-teki dagelan politik Pemilihan Presiden berakhir dengan kejutan politik pada saat detik-detik pengumuman Calon Presidennya masing-masing.

Kenapa tidak, sontak semua publik di kagetkan dengan keputusan politik calon Presiden Prabowo dan Jokowi yang selama ini tidak prediksikan sebagai kandidat kuat.

Meskipun nama Kh. Ma’aruf Amin sempat di kaitkan dengan cawapres Jokowi namun namanya tidak segetol Moeldoko, Mahfud MD dan TGB.

Begitupun dengan Prabowo, selama ini publik melihat komunikasi politiknya lebih bersafari dengan keluarga cikeas. AHY, UAS, Salim Segaf, ketiga nama ini sering di kaitkan dengan nama calon Prabowo, namun semua peta politik di patahkan oleh hadirnya Sandiaga Uno mendampingi Prabowo.

Proses komunikasi politik yang belum finall dengan partai koalisi lain , menghebohkan  Partai Demokrat dengan keputusan politik Prabowo yang lebih mementingkan uang dari pada perjuangan.

Sehingga kedua kubu saling berbalaskan pantun,  Jendral Kardus Vs Jendral Baper.

Kandidat Non-partai salah satu faktor evaluasi politik diinternal koalisi indonesia kerja agar tidak menimbulkan konflik politik antara koalisi.

Kehadiran Kh Ma’aruf Amin mendampingi Jokowi pasti dengan kalkulasi politik yang sangat besar. Dalam analisa politik hari ini, kehadiran Kh Ma’aruf Amin mendampingi Jokowi untuk mewakili populis islam dan basis 212. Kenapa tidak, selama masa transisi kepemimpinan Jokowi kerap di kait-kaitkan hubungannya dengan isu yang tidak sedap, isu SARA,INTOLERANSI,PKI,DISKRIMINASI AGAMA,dll. Melalui kekuatan politik basis elektoral umat yang di miliki oleh Kh Ma’aruf Amin akan mematahakan isu-isu yang menyerang pemerintahan Jokowi selama ini.

Elektoral Jokowi Ahok gaduh dengan hadirnya Ma’aruf Amin

Isu nama Mahfud MD paling nyaring dan mendapatkan respon yang sangat baik dikalangan masyarakat ketika menjelang pengumuman capres Jokowi. Al-hasil semuanya dikejutkan dengan keputusan Pakde yang membuat publik kaget. Banyak masyarakat yang notabene pendukung Jokowi-Ahok kecewa dengan keputusan tersebut.

Kenapa tidak, nama Kh Ma’aruf Amin salah satu aktor yang paling getol untuk mengadili Ahok pada kasus penistaan agama. Kekecewaan ini massif di kalangan pendukung Jokowi-Ahok hingga narasi golput pun cukup heboh. Hari ini, narasi politik Jokowi-Ahok pada saat menjabat DKI satu akan terulang  pada Pemilihan Presiden kedepan dalam satu frame yang sama.

Pada saat Jokowi-Ahok DKI satu, narasi tolak ahok terdengar nyaring , meskipun pada akhirnya masa bodoh dengan Ahok yang penting Jokowi. Begitu pun dengan Jokowi-Kh Maaruf Amin, tidak penting Capresnya yang penting Presidennya.

Hijrah Politik Sandiaga Uno sama  seperti Jokowi

Dalam pertarungan politik menajemen logistik politik salah satu faktor utama dalam pertarungan konstelasi politik. Sandiaga Uno memiliki segudang manajemen logistik politik yang sangat besar bahkan pada proses pilkada DKI Jakarta, Sandiaga Uno sangat besar mengeluarkan logistiknya dalam memenuhi mesin politiknya bersama Anies Baswedan, kalkulasi politik inilah yang membuat Prabowo menarik Sandiaga Uno mendampinginya.

Hitungan politik Sandiaga Uno untuk hijrah ke kekuasaan lebih tinggi mungkin beracu pada proses politik Jokowi dari Gubernur menjadi Presiden.

Namun, proses hijrah ini tidak mudah untuk Sandiaga Uno, karena secara perolehan elektabilitas dalam jabatan publik masih jauh dengan jokowi dan kerap Sandiaga Uno mendapatkan respon yang kurang baik dalam mengelola Dki Jakarta. Lalu, narasi tidak becus memimpin Jakarta akan memimpin Indonesia pasti akan cukup passif.

Lihainya Jendral Kardus dari Jendral Baper

Meskipun Mahfud MD merupakan korban politik dari lastminute Koalisi Indoesia kerja namun tetap berjiwa besar menanggapi dagelan politik tersebut. Dalam persoalan yang sama, Partai Demokrat juga merupakan korban politik Prabowo pada saat mengumumkan Capresnya.

Partai Demokrat yang memiliki ambisi politik untuk menyeret nama AHY sebagai capres Prabowo di patahkan dengan isu kuatnya nominal 500 M dengan PAN dan PKS dari Sandiaga Uno. PKS yang bersikeras merekomendasikan Capresnya dari kalangan Ijtima Ulama terlihat bungkam ketika nama Sandiaga Uno di sahkan. Apa iya karena logistik 500 M ?

Lalu, Partai Demokrat kemana ? Ke Prabowo di PHP-ein, Ke Jokowi mempunyai hubungam baik, namun di sisi lain harus butuh jiwa besar dan rendah hati untuk meminta restu dengan Megawati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top