Yang Waras Ngalah? Salah…Yang Waras Ambil Alih!! – strategi.id
Dialektika

Yang Waras Ngalah? Salah…Yang Waras Ambil Alih!!

Waras ngalah

Strategi.id – Libur lebaran kali ini lebih dari seminggu, dan selama seminggu lebih ini pula saya harus mengonsumsi kegaduhan yang ditimbulkan anak-anak saya. Hampir semua hal menjadi sumber keributan sejak pagi buta sampai larut malam. Satu anak menikmati tayangan teve, yang lain datang dan awalnya ikut menonton bareng tapi kemudian memegang remote dan mengganti channel sehingga memicu keributan sehingga muncul istilah yang waras ngalah dalam keluarga.

Begitu dilerai, pertengkaran selesai. Satu anak pindah tempat dan memutuskan bermain bola basket. Namun saat yang lain menyusul dan ikut bermain, bola basket itu yang kemudian menjadi pokok keributan berikutnya, entah apa lagi masalahnya. Begitu dilerai, selesai. Beberapa saat suasana tenang. Malah terdengar ketiganya tertawa riang di dalam kamar. Tapi itu hanya sebentar saja, sebab sesaat kemudian terdengar teriakan saling marah hanya gara-gara rebutan bantal.

Siapa pemicunya? Ya semua punya porsinya. Kalau di satu hal ada satu anak menjadi pemicu keributan, maka yang lain merespons keributan itu. Di hal lain pemicu keributan adalah anak yang berbeda, dan yang lainnya berbalik menjadi perespons. Tapi intinya mereka yang ribut ya itu-itu saja. Aktornya mereka-mereka juga.

Begitu pula dengan kondisi negara ini, saat ini. Di tahun politik 2018 ini, kegaduhan datang lebih dari delapan penjuru mata angin. Tahun ini ada 171 pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia. Tahun depan ada Pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Situasinya seperti yang sudah-sudah: berbagai isu digoreng untuk mendapatkan perhatian publik dan sekaligus juga untuk menjatuhkan citra lawan.

Kehidupan bernegara dan berpolitik kita begitu gaduh dan penuh perdebatan sengit. Bahkan orang-orang waras, baik yang melek politik maupun yang tidak memiliki intensi politis, terpaksa harus mendengarkan kegaduhan itu di semua tempat: di ruang keluarga, di tempat kerja, di sekolah-sekolah, di pinggir jalan, di warung kopi, juga di rumah-rumah Tuhan.

Bahkan di bulan Ramadhan yang semestinya tidak hanya menahan lapar dan haus, hawa nafsu untuk menyerang lawan politik tidak juga berhenti. Hanya intesitasnya saja yang terkadang turun menjadi sekadar hawa nafsu menyindir.

Menjelang Idul Fitri, semua panca indra terganggu oleh kegaduhan polemik tol si ini tol si itu. Linimasa media sosial kita dipenuhi para pembela dan para penghujat. Berbagai meme beredar cepat dan meluas. Demikian grup-grup pertemanan dan keluarga di Whatsapp, Line, dan lain-lain dipenuhi oleh polarisasi dua kubu.

Bahkan saat masih dalam suasana Idul Fitri pun kegaduhan tidak mereda. Ada kegaduhan akibat kehadiran Sekjen PBNU Cholil Yahya Staquf menghadiri undangan pemerintah Israel dan menjadi pembicara konferensi tahunan Forum Global American Jewish Committee/AJC atau Komite Yahudi Amerika di Yerusalem. Muncul reaksi beragam dari warganet dan juga masyarakat Indonesia. Ada yang mencela langkah Yahya Staquf bahkan sampai tokoh partai dan eks menteri dari PKS, tapi tak sedikit juga yang membelanya—utamanya warga Nahdliyin.

Lalu ada pula kegaduhan yang muncul dari pengangkatan Komjen Pol Iriawan menjadi Plt gubernur Jawa Barat yang cenderung merusak demokrasi sebab melahirkan Dwifungsi Polri. Belum selesai itu, kondisi arus balik mudik pun menjadi “gorengan” politik ketika kebijakan contraflow di jalan tol sejauh ratusan kilometer diambil. Padahal tujuannya bagus, agar tidak ada parkir masal di jalan tol saat arus balik menuju Jakarta.

Singkatnya, kalau kubu pemerintah yang menjadi pemicu kegaduhan, maka kubu yang berseberangan langsung menanggapi dengan antusias. Begitupun sebaliknya. Yang ironis, serangkaian kegaduhan yang ditimbulkan kebanyakan tidak substantif. Kegaduhan yang ditimbulkan kubu pro pemerintah dan anti pemerintah ini seolah meniadakan keberadaan kelompok waras, objektif, dan menginginkan kedamaian di negeri ini. Seolah-olah hanya dua kubu ini yang punya hak atas negeri ini.

Kalau mau ikut arus gaduh, silakan saja. Mungkin memang tak peduli bagaimana bangsa ini harus maju dan rakyat sejahtera. Asal kandidat Anda menang dan berkuasa, itu sudah cukup. Padahal setelah semua kontestasi politik usai, kita akan kembali lunglai dengan masalah ekonomi sehari-hari, menyaksikan setiap penggusuran dan perampasan hak rakyat, dan menonton kasus-kasus korupsi sebagai hiburan sehari-hari.

Kegaduhan bukan merupakan komponen untuk memajukan bangsa ini. Kegaduhan semestinya justru disingkirkan, bukan terus-menerus dibiarkan. Di titik inilah peran orang waras diperlukan. Dengan kondisi yang sangat memuakkan seperti sekarang, slogan “yang waras ngalah” sudah tidak seharusnya lagi dijadikan pegangan. Saatnya diganti dengan “yang waras ambil alih!!!”
Setuju??!!

Artikel ini sudah ditayangkan di www.watyutink.com dan diizinkan oleh penulisnya untuk dimuat di strategi.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top